Anaknya yang tunggal

Jika kakak laki-laki saya masih hidup hari ini, saya tahu dia ingin kisahnya diceritakan.

Ayah saya memiliki pengharapan yang tinggi kepada anak laki-lakinya yang tunggal, dan David mengalami tekanan yang besar untuk hidup dalam pengharapan itu—lebih dari kami para gadis yang dengan mudah melewati sekolah hanya dengan sedikit kesulitan. David tidak pandai dalam membaca, gagal dalam kelas, dan harus berusaha keras untuk mendapatkan nilai C dan D.

Satu-satunya anak lelaki dalam keluarga dari 7 orang anak perempuan, kakak saya sering merasa terasing dari kami semua. Dengan demikian dia terlihat mencari penerimaan dalam hubungan di luar rumah. Hal ini membawa dia selama masa remajanya dengan bergabung dengan “kumpulan yang salah”—dia bergabung dengan sebuah kelompok geng, berantakan karena narkoba, dan mulai kebut-kebutan dengan menuruni bukit sampai 100 mil per jam.

Karena dia sangat spesial buat saya, saya sering berbicara pada kakak lelaki saya tentang kasih Tuhan untuknya, dan kebutuhannya untuk diselamatkan, dan menyerahkan dirinya pada Yesus Kristus. Namun David menyatakan dirinya untuk menjadi atheis. Dia dapat menentang keberadaan Tuhan secara rasional pada firman yang dikemukakan., dia berkata; Tuhan hanya untuk yang lemah, untuk mereka yang membutuhkan penopang.

Namun hidupnya hampa.

Ketika saya meninggalkan rumah untuk belajar di Sekolah Alkitab di New York, saya terus berdoa untuk keselamatan David. Tiga tahun kemudian, ketika saya menelepon ke rumah dan dia mengangkat telepon, terdengar sangat tertekan, saya merasakan sesuatu yang salah. Dia tidak mengatakan banyak hal. Namun roh saya terbeban untuk mendoakannya. Itu adalah beban yang tidak dapat saya abaikan. Saya berpuasa selama beberapa hari, mencurahkan seluruh waktu saya untuk berdoa syafaat.

Sebuah surat 11 halaman mengikuti di mana saya mencurahkan isi hati saya pada kakak lelaki yang saya kasihi dan rindu untuk melihatnya diselamatkan. Saya katakan padanya tentang kasih Tuhan untuknya secara pribadi, bahwa segala sesuatu yang terlihat sangat penting sekarang, suatu hari nanti akan hilang: dan di manakah hal itu akan meninggalkannya? Saya katakan padanya bahwa teman-temannya mengkhianatinya; dan dia kehilangan pekerjaannya, kesehatannya, dan segalanya—tetap Yesus akan ada di sana, tepat ketika dia sangat membutuhkan Nya.

Sedikit yang saya ketahui. Namun hari itu telah tiba—bahkan saat surat itu ditulis—semua hal yang mendukung hidupnya disingkirkan. Dalam waktu satu minggu, semuanya hancur. Dia dikeluarkan dari kuliah, diberhentikan dari pekerjaannya, dan kehilangan semuanya: teman-temannya, masa depannya, dan hampir pikirannya.

“Saya harus menemui Diane,” David memberitahukan ayah saya. Dia tidak mau menunggu sampai pagi, ketika ayah saya dapat mengambil uang dari bank untuk membelikannya tiket pesawat untuk perjalanan yang jauh itu. Dia harus menemui saya, katanya, dan dia sudah datang sekarang.

Saya sedikit menghubungi keluarga saya selama tahun-tahun itu; ayah saya sudah mengusir saya keluar dari rumah ketika saya meninggalkan gereja Katolik dan memberikan hidup saya untuk Yesus. Maka ketika saya menerima telepon jarak jauh itu, saya tahu ada sesuatu yang salah. Dan meskipun saya bergetar mendengarkan berita bahwa kakak lelaki saya akan datang menemui saya, saya tidak dapat menahannya namun perasaan menyesal dan larangan di suara orang tua saya ketika mereka mengatakan pada saya bahwa dia tidak mau menunggu pesawat, namun sudah pergi: dengan mencari tumpangan. Saya tahu mereka tidak senang dengan kunjungannya; mereka memperlihatkan kemarahan mereka karena mengundangnya. Sekarang saya merasakan keprihatinan di suara mereka, tidak hanya untuk keamanannya (dia berusia 22 tahun, bukan anak-anak), namun dia tidak dewasa seperti itu (secara rohani) seperti saya dan adik-adik perempuan saya.

David mengalami emosi yang hancur. Dia telah ditodong di sebuah taman yang gelap di kota New York, dirampok di luar Western Union, dan berada di jalanan selama berhari-hari, tersesat tanpa ada tempat untuk berteduh. Dia terlihat kurus dan kuyu. Keterlibatannya dengan narkoba telah membuatnya paranoid dan kebingungan, dan dia berbicara seolah-olah dia kelelahan dengan hidup. Semua yang dia katakan dan lakukan kelihatannya berhasil. Namun dia di sini, akhirnya—aman dan tentram. Dan cukup putus asa saat ini, dengan penggambarannya sendiri sebagai “salah seorang yang lemah—yang membutuhkan Tuhan.”

Hari Sabtu sore pada musim semi tahun itu, segala ciptaan bermekaran dengan awal harapan yang baru. Tunas sudah terbentuk dan kampus menghijau dengan hidup baru. Kami berjalan cukup jauh sekitar area kampus seluas 170 are. Banyak sekali yang ingin dikatakan. Kami membicarakan ayat dalam Alkitab dan hal kekekalan: hal yang penting. Hati David telah gembur dan menerima Perkataan Kehidupan.

Sebuah pengumuman dibuat malam itu, seorang penginjil yang tidak terkenal akan melayani para siswa dan semuanya dihimbau untuk hadir. Hal ini sangat tidak lazim untuk hari Sabtu malam, untuk pembicara yang khusus biasanya akan diundang untuk berbicara pada Minggu pagi. Namun pembicara tamu itu akan ada di kota untuk malam itu, maka pertemuan khusus diatur.

Sekarang sangat sulit dikatakan bahwa kebanyakan orang yang mengikuti sekolah Alkitab sudah menyerahkan hati mereka kepada Yesus Kristus. Namun di sana pada Sabtu malam itu, di sebuah sekolah Alkitab, pesan keselamatan ditujukan pada kami semua, sementara seluruh siswa menunggu. Panggilan altar dilakukan…lagi dan lagi.

“Saya tidak akan mengakhiri kebaktian ini,”pembicara itu memaksa,”Sampai orang ini maju ke depan. Ada seseorang di sini yang baginya ini adalah kesempatan terakhir.” Dengan perkataan pengetahuan yang hanya Roh Kudus dapat nyatakan, dia melanjutkan:”Saya sudah memanggil kamu sebelumnya. Saya tidak akan memanggil kamu lagi. Kamu sudah mencoba segalanya. Sekarang tidak tempat lagi untuk berlari. Kamu tidak dapat kembali. Teman-temanmu telah meninggalkan engkau, keluargamu—kamu telah kehilangan semuanya—pekerjaanmu, segalanya.”

Musik dimainkan. Udara sangat sesak. Tolong Tuhan jangan biarkan dia pergi! Bawa dia mendekat oleh Roh Mu, saya berdoa. Kemudian seperti ditarik oleh magnet, kakak lelaki saya bangkit dari kursinya dan maju ke depan.

“Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasakan damai.” Dia mengatakan pada saya kemudian. “Damai!” Tekanan itu telah diangkat. David telah menemukan arti dan tujuan dalam hidup. Tuhan sungguh nyata!

Ayah saya sangat marah mendengar perubahan anak lelakinya. Ketika David menelepon ke rumah untuk menceritakan iman yang baru ditemukannya, dan damai dan sukacita yang sekarang dia miliki, ia ditolak.

“Sepanjang pengetahuan saya,” ayah saya memberitahukannya,”Saya tidak pernah punya anak lelaki. Jangan menelepon kemari lagi! Dan jangan kembali. Sepanjang pengetahuan saya, kamu orang rendah!”

David menyelesaikan tahun sekolah susulannya dengan saya. Dengan datangnya musim panas, dan tidak mengetahui apa yang akan dilakukan atau pergi ke mana, dia memutuskan untuk pergi menumpang berkeliling negara. Tuhan akan memimpin dia ke rumah yang baru, dia percaya.

Saya tidak pernah melihat dia lagi. Pada suatu malam yang hujan, sepanjang Shenandoah Valley di Virginia, sebuah truk traktor trailer menabrak kakak lelaki saya pada usianya yang ke 22 tahun, dia pulang ke rumah dengan Tuhan.

Tidak seorang pun dari antara kita tahu kapan kita akan dipanggil pulang ke rumah. David berada “pada saat puncak dalam hidupnya.” Dia masih mempunyai satu tahun masa kuliahnya untuk diselesaikan dan “seluruh kehidupannya berada di depannya.” Tidak ada seorang pun mengira dia akan meninggalkan kami demikian cepat. “Bersiap-siaplah,”kata Yesus,”karena kamu tidak mengetahui akan waktunya…” (Lukas 12:39-40)

Berita kematian David menjadi hal yang serius dalam keluarga kami. Akan tetapi, kita semua sudah dibuat siaga atas kecekatan hidup, dan pentingnya membuat hidup berarti setiap hari. Kami masih berdoa untuk keselamatan ayah kami, baginya kisah kasih Tuhan di Kalvari akan memiliki arti yang khusus: bahwa “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Dia mengaruniakan Anak Nya yang tunggal….” (Yohanes 3:16)

       
HOME

KASIH ALLAH