Iman seorang anak kecil

Pelajaran seorang Ibu Tunggal tentang Iman
Belajar melalui mata dari seorang anak

Apabila saya belajar satu hal tentang penyediaan Tuhan dan jawaban doa, dalam hampir 20 tahun sebagai orang tua tunggal, inilah : ketika kita sudah kehabisan sumber kita, Tuhan sering kali menyediakan dalam mencari yang tidak lazim maka kita dapat mengenali bahwa Dia yang melakukannya, bukan kita!

Salah satu pelajaran terbesar saya tentang iman terjadi ketika putra saya, usia 2 tahun meminta sebuah sepeda roda tiga. Sebagai seorang ibu tunggal, saya sering tidak sanggup menyediakan segalanya selain sewaan dan keperluan. Saya hanya mempunyai $ 5, dan kami butuh untuk membeli susu dan roti.

“Sepeda roda tiga baru sangat mahal,” saya berkata pada Jonathan. “ Maka mari kita berdoa dan meminta pada Tuhan.” Dalam iman seorang anak kecil, dia setuju.

“Apa warna sepeda roda tiga yang kamu inginkan?” Saya menanyakannya dan menjelaskan bahwa Tuhan senang jika kita lebih terperinci ketika kita berdoa, supaya kita mengetahui bahwa jawabannya dari Tuhan.

“Hijau, warna kesukaan saya,” dia menjawab dengan datar.

“Dan kita tidak ingin sepeda yang berkarat,” saya menambahkan.
“Saya akui, seketika saya menjadi sedikit gugup, semakin terperinci dengan permintaan kami. Bagaimana jika Tuhan tidak memenuhinya? Saya bingung iman putra kecil saya mungkin hancur. Mengenali sumber pikiran itu, saya menghalau ketakutan itu.

Selalu bersusah payah untuk memenuhi kebutuhan, sebagai seorang ibu yang tunggal, saya sering mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk mengajarkan anak saya bahkan tanpa uang, bagaimana kita dapat menjadi “Kaya dalam iman” (Yakobus 2:5), “Kaya dalam kebajikan” (I Timotius 6:18), “Kaya dengan rahmat” (Efesus 2:4), dsb.

Tetapi sering kali mungkin saya belajar lebih banyak dari pengalaman dari pada dia!

Kami masuk ke dalam mobil Chrysler tua kami dan karena kami hanya memiliki $ 5, kami memutuskan untuk mengunjungi satu atau dua obralan di taman.

“Mari kita bertanya pada yang pertama kita temui, supaya kita tidak mengabiskan banyak waktu,” kataku.

Di tempat pertama kami berhenti, Jon mulai berlari ke jalan, berkata,”Lihat Bu, sepedaku! Sepedaku!” Belum saya dapat berkata apa-apa, dia telah menaiki sepeda hijau itu dan berputar mengendarainya. Sepeda itu dalam kondisi baik, saya pikir itu tidak untuk di jual.

“Anak-anak yang tinggal disini mungkin hanya meninggalkan sepeda itu di taman,”kata saya meragukan. “Tidak ada labelnya,” “ Tapi itu berwarna hijau, Bu, dan sepeda itu tidak berkarat! Itu pasti milikku! Jon berdebat.

Dia benar; sepeda itu tidak berkarat sama sekali. Bahkan dalam kondisi yang sangat bagus, saya katakan padanya bahwa walaupun sepeda itu di jual di obralan (dan bukan milik anak-anak yang tinggal disitu), pasti harga sepeda itu lebih dari kemampuan kita.

“Tapi Bu, kita berdoa!” (Aduh! Saya merasakan itu) Saya menanyakan apakah sepeda itu dijual dan berapa harganya.

“Oh, sepeda itu sudah di loteng selama bertahun-tahun,” katanya. “Kami tidak membutuhkannya. Berapa yang kamu kira?”

“$ 3,50?” Tanya saya, hampir dengan meminta maaf, sambil memikirkan tentang susu dan roti yang kami harus beli dalam perjalanan pulang.

Dia berhenti. (Pasti ini harga yang menggelikan. Saya merasa malu telah mengatakannya) kami berdoa memandang sekilas pada Jonathan sedang berputar-putar di jalanannya.

“Tentu, kenapa tidak?” dia setuju.
Dan itulah bagaimana Jonathan mendapatkan sepeda hijau bagusnya. Saya tidak pernah belajar dasar matematika tentang kemungkinan, saya tahu “kesempatan” untuk menemukan sepeda hijau, tanpa karat, dibawah $ 5, pada obralan taman pertama yang kami singgahi, pada hari khusus itu, sungguh sangat kecil. Namun “tidak ada yang mustahil bersama Tuhan.”

Sekarang anak saya telah besar dan mengendarai mobil (ya sebuah mobil yang diberikan oleh seseorang secara gratis, jawaban atas doa), sering saya terheran: begitu berbedanya hal itu, jika kami tidak berdoa, sering kali terpaksa untuk kebutuhan kami dicukupi. Ketika kita punya uang di kantong, sepertinya kita tidak perlu berdoa untuk “makanan kita sehari-hari”, seperti yang Yesus perintahkan. Kita hanya pergi ke toko dan membelinya.

Saya juga belajar bahwa Tuhan lebih kuat bahkan dari pada ketidakpercayaan saya, Bahkan “Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya." (2 Timotius 2:13)

Sepeda roda tiga berwarna hijau itu saat ini disimpan di gudang bawah tanah kami. Setiap kali saya melihatnya, saya diingatkan tentang bagaimana Tuhan menunjukan diriNya dengan sangat nyata pada kami hari itu melalui iman dari anak kecil.

HOME

KASIH ALLAH