Kasih yang tak dapat disangkal

Saya adalah orang yang minder di sekolah, saya tidak mempunyai seorang teman pun-tidak ada yang diajak berbicara, dan tak ada alasan untuk hidup. Saya pikir, jika saya bunuh diri, siapa yang peduli? Jika saya mengakhiri hidup saya, siapa yang akan kehilangan?

Ayah saya selalu sibuk dan ibu saya sering kali pergi dari rumah sebulan penuh, mungkin mereka baru tahu kalau saya tidak ada dirumah setelah beberapa hari kemudian. Dan itu menakutkan saya. Kami sekeluarga baru saja pindah rumah, dan sebagai anak baru di sekolah saya seolah-olah tidak berpijak dan tidak menetap. Itulah saya si anak baru disekolah karena saya sangat pemalu hingga saya tidak bisa berbicara pada siapa pun. Bahkan saya tidak berani mengangkat tangan di kelas.

Tiap kali seseorang menatap saya, saya merasa harus meminta maaf karena kehadiran saya. Ketika juru photo meminta saya tersenyum untuk pengambilan foto kelas, saya tak berdaya dan menangis. Saya berpikir, apa yang harus saya senyumkan?

Menjadi anak ke sembilan dalam keluarga, saya merasa tidak berarti ditengah mereka. Sewaktu Natal setiap orang mendapatkan hadiah kecuali saya. Mungkin itu hanya kekeliruan, karena tentu saja ayah dan ibu saya harus membelikan hadiah untuk banyak orang. Tapi tidak ada kata-kata yang dapat meringankan sakit yang saya rasakan di hati saya ketika hadiah dibuka dan tidak satu hadiah pun untuk saya. Terlupakan !

Salah seorang siswa yang jahat di kelas saya suka meledek rasa ketakutan saya dengan mengatakan,”ada apa, bisu ya? Punya suara tidak?” kemudian dia akan tertawa ketika saya menangis. Akhirnya saya merasa tidak tahan lagi…saya berpikir, jika ini adalah kehidupan yang ditawarkan, lebih baik lupakan saja.

Suatu malam,saya tidak dapat tidur karena kekacauan yang terjadi di dalam saya, saya berharap saya mati dan tidak pernah bangun lagi. Saya memutuskan untuk mengetahui apakah kehidupan itu atau berhenti saja. Meskipun saya ke pergi ke gereja sepanjang hidup saya, saya tidak pernah berbicara kepada Tuhan. Dalam keadaan depresi saya mengeluh pada Tuhan atas semua masalah saya dan seolah-olah saya merasa Dia mengerti. Terasa sangat indah memberitahukan kepada seseorang tentang perasaan saya.

“Tidak ada yang mengasihi saya,” saya menangis. Tuhan berkata sejelas suara orang yang pernah saya dengar:”Ingatlah bahwa Aku mengasihi kamu.” “ Tetapi bagaimana saya tahu hal itu? Saya membela diri. Kemudian Dia mengingatkan saya pada kayu salib-gambaran sebuah kasih sempurna. Sekarang air mata saya dipenuhi dengan pengharapan. Ia adalah Kasih yang tidak dapat disangkal.

Keesokan harinya seorang gadis disekolah mengatakan pada saya betapa nyatanya Tuhan bagi dia dan bagaimana dia menemukan penghiburan dan penyertaan dengan membaca Alkitab. Dia mengundang saya untuk pergi bersamanya ke gereja, dan ketika saya mendengarkan pesan tentang campur tangan Tuhan dalam kehidupan banyak orang, saya menangis tersedu-sedu. Selama bertahun-tahun saya pergi kegereja tidak pernah saya dengar perkataan tentang kehidupan dan pengharapan seperti itu.

Beberapa anak muda datang dan merangkul saya, dan mengatakan bahwa mereka mengasihi saya, dan Tuhan juga mengasihi saya. Mereka juga mengundang saya ke retreat anak muda pada akhir pekan itu. Di pagi hari itu, duduk diatas sebuah batu dekat sebuah danau yang tenang di Georgia, saya memberikan hidup saya pada Yesus Kristus.

Berepa hari kemudian saya mempelajari Ayat-ayat Alkitab. Sambil saya membaca, rencana Tuhan dalam hidup saya semakin jelas. Saya membaca bahwa “semua orang telah berdosa” dan “tidak ada yang benar, seorang pun tidak” (Roma 3:10,23) namun saya juga membaca,” Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”(Efesus2:8,9). Ketika saya kembali ke sekolah pada musim gugur berikutnya, anak laki-laki yang suka mengejek saya karena rasa malu saya, menghampiri saya di kantin dan bertanya ”apa yang telah terjadi dengan mu selama musim panas?”. Kamu sangat berbeda.

Saya memberitahukannya tentang kasih dan kemurahan Allah pada saya, bagaimana saya menemukan arti hidup saya. Dan laki-laki yang suka membuat saya menangis sekarang hampir menangis ketika dia menceritakan tentang masalah keluarganya. Namun hal itu tidak mudah bagi saya. Meskipun saya baru berusia 16 tahun, ayah mengusir saya ketika dia tahu tentang iman saya pada Kristus. Namun saya menemukan kasih dan penerimaan dalam keluarga Tuhan yang tidak pernah saya tahu waktu saya kecil.

Sudah lebih dari 30 tahun sejak saya memberikan hidup saya pada Yesus Kristus. Saya masih bergumul dengan perasaan kesepian dan penerimaan diri, tetapi Tuhan selalu menemani saya disana. Dia telah memberikan saya rasa aman dan kestabilan yang baru. “Sekalipun dia (seorang ibu) melupakan, Aku tidak akan melupakan engkau. (Yesaya 49:15) saya mempunyai seorang teman dalam Yesus Kristus, saya selalu dapat berbicara dan bersama Nya saya dapat menjadi diri saya.

Mengenal Allah yang sempurna, mengasihi dan menerima saya apa adanya, telah memberikan saya sebuah kepercayaan diri dan penerimaan diri yang baru. Dia sangat menghargai kehidupan saya (sebuah kehidupan yang siap untuk dibuang) dengan mengirimkan Anak Nya untuk mati menggantikan saya. Rasa minder yang saya miliki waktu saya kecil saat ini sudah hilang, digantikan dengan suatu perasaan berharga dalam Dia. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5:17

HOME

KASIH ALLAH