Kuasa kasih Tuhan


Kehidupan saya mulai dengan sedikit normal. Saya jabarkan “sedikit” itu. Saya lahir dalam keluarga besar dengan kedua orangtua yang mengasihi. Tapi tentu saja sejak hari pertama ada masalah. Ibu saya masih resmi menikah dengan mantan suaminya, ayah dari kakak tertua saya. Itu adalah nama belakangnya yang dia taruh di akte kelahiran saya, dan pada usia saya menjelang 16 tahun itu dirubah. Hal itu memusingkan, tapi tidak ada yang mudah. Ketika saya berusia dua tahun akhirnya orang tua saya menikah. Ibu saya sedang mengandung adik laki-laki saya pada saat itu, tapi dia masih terlihat cantik dengan bajunya. Pernikahannya secara keseluruhan indah, tapi hanya itu yang saya ingat. Ibu saya juga menderita tumor otak. Dia keluar masuk rumah sakit saat adik dan saya sedang bertumbuh. Kami sering berpindah-pindah di awal-awal tahun, sampai kami menemukan rumah besar ini dan dalam lingkungan tetangga yang besar. Saya menyukainya. Itu adalah rumah yang indah hanya beberapa langkah jaraknya dengan perairan. Kami tinggal disana beberapa tahun. Ibu saya sudah cukup parah dalam dua tahun itu. Satu malam, ayah saya kedatangan beberapa orang teman. Mereka berada di garasi sedang minum bir dan hanya berkunjung. Ibu saya mendapatkan serangan secara mendadak. Dia mengunci saya dan adik saya di kamarnya, dan menghancurkan rumah. Ibu saya melempar perabotan rumah dan barang lainnya keluar jendela dan benar-benar memporak-porandakan rumah. Dia melemparkan dirinya sendiri ketembok sampai dia luka memar dan terhantam. Kemudian dia menelepon polisi dan menyalahkannya pada ayah saya. polisi menangkapnya., namun keesokan harinya nenek saya membebaskannya keluar. Mereka tidak sepenuhnya percaya pada cerita ibu saya. ayah tinggal dengan kakek nenek saya karena dia tidak ada tempat untuk pergi lagi. Beberapa hari kemudian, ibu saya mengantarkan adik saya, dan hari berikutnya, dia mengantarkan saya. ibu saya pindah dengan ibu nya, tidak mampu untuk merawat dirinya sendiri.

Tentu saja adik kecil saya dan saya tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Kami hanya berusia empat dan enam tahun saat itu. Kami hanya mengira itu hanya kunjungan kecil ke rumah kakek nenek. Tapi kunjungan kecil itu menjadi berminggu-minggu, berbulan-bulan. Akhirnya saya harus mengganti sekolah dasar. Itu kemudian saya akhirnya menyadari apa yang sebenarnya terjadi.

Bulan-bulan itu setelah perpisahan secara brutal itu. Saya kehilangan ibu saya, teman-teman saya, kehidupan saya, semuanya pada waktu yang sama. Saya biasa terduduk dan menangis untuk ibu saya berjam-jam sampai selesai. Saya tidak berhubungan lagi dengannya. Saya tidak dapat mengatakan padanya saya mengasihi dia, dan betapa saya merindukannya. Dia mengunci dirinya di kamar, dan kalau dia tidak ada disana, dia berada di rumah sakit atau klinik jiwa.

Ayah membawa saya ke sebuah konseling untuk membicarakan perasaan sakit hati saya dan penelantaran. Saya ingat menuliskan cerita-cerita tentang ibu saya dan kami semua sebagai sebuah keluarga yang bahagia, dan menggambarkan foto dan lukisan tentangnya. Ayah berkata, konseling itu sangat membantu saya, tapi saya tidak benar-benar mengingatnya, tapi saya hanya mempercayai perkataanya. Ayah saya adalah laki-laki yang hebat, tapi kami tidak benar-benar dekat. Kami berbicara, dan waktu kami mulai akrab, tapi kami tidak selengket seperti adik dan ayah saya, tapi itu dapat dimengerti. Kadang-kadang saya berharap kami dekat, tak mengapa.

Nenek dan saya sangat dekat dan bersama untuk waktu yang lama. Dia adalah figure ibu dimana adik dan saya tumbuh. Saya ingin seperti dia kalau saya sudah tua. Dia orang yang luar biasa, dan teman yang baik. Saya bahagia bahwa Tuhan membawa kami untuk tinggal disini. Walaupun kami banyak berselisih karena perbedaan usia, saya mengasihi dia dan saya bersyukur atasnya setiap hari.

Saat melewati SD dan SMP saya mengalami masalah kehilangan ibu saya dalam peristiwa kehidupan saya. Saya menjadikan makanan sebagai penghibur. Kapan saja saya merasa sedih, marah, apa saja, saya akan makan. Saya menjadi seorang anak yang gemuk dan diejek di sekolah karena hal itu. Saya menjadi tertekan dan anti sosial karena hal itu. Setiap hari ada saja lelucon baru terhadap saya. Saya tidak menikmati pergi kesekolah, namun sampai kelas 7, saya memperoleh nilai yang sangat bagus. Saya menginginkan pujian dari orangtua saya, tapi saya tidak mendapatkannya. Bahkan saya mendapat National Honor Society, namun saya sulit sekali mendapatkan pujian. Hanya pekerjaan yang bagus sudah sangat bagus. Akhirnya saya memutuskan bahwa kerja keras saya untuk mendapatkan nilai bagus bukan apa-apa selain saya mendapatkan pujian untuk itu, jadi saya berhenti mencoba dan menjadi pemalas.

Pada kelas delapan, beberapa teman dan saya menciptakan kelompok bernyanyi. Kami melakukannya cukup bagus, maka kami mendaftarkan diri ke sebuah pertunjukan kemampuan yang diadakan disekolah kami. Namun seminggu sebelum pertunjukan itu, salah satu gadis yang adalah teman baik saya memutuskan untuk tidak bergabung dalam kelompok lagi. Itu seperti sebuah pisau di hati saya. saya menganggapnya juga tidak mau menjadi teman saya lagi. Pada minggu ulang tahun ke-14 saya dia menyerahkannya kepada gadis lain (yang segera menjadi teman baik saya) dan saya tidak berpikir itu adalah adil. Saya menjadi sangat tertekan, berpikir bahwa ada sesuatu yang saya lakukan yang menyebabkan dia tidak mau bernyanyi dengan kami lagi. Ditambah itu masih merupakan mimpi saya untuk mencapai kesuksesan dalam industri musik, maka saya juga mengantisipasi. Saya naik turun berat badan secara drastis, dan nilai saya sangat anjlok. Saya juga menjadi sangat ateis. Tadinya saya berpikir, Jika memang ada Tuhan, kenapa Dia membiarkan hal ini terjadi pada saya? hal ini berlangsung terus sampai saya mencapai SMA.

Di tahun penyegaran saya, saya sama sekali tidak peduli tentang apa pun. Saya berhenti masuk kelas, mencoba-coba dengan banyak hal berbeda. Saya hanya datar saja tidak peduli. Ketika saya ketahuan melakukan sesuatu, saya akan berbohong agar keluar dari hal tersebut. Saya tertidur dikelas dan tidak peduli lagi tentang diri saya sendiri atau orang lain disekitar saya. bahkan saya membeci dunia ini. Pada akhir tahun penyegaran saya, teman baik saya dan saya tidak berteman lagi karena sikap saya terhadap banyak hal di dunia.

Pada musim panas memasuki tahun sophomore (tahun kedua Universitas di Amerika), saya mulai memotong diri saya sendiri untuk menhilangkan penderitaan saya. terlebih adik saya mengalami patah kakinya. Saya menghindar dari banyak hal, dan menjadi sangat dekat dengan adik saya. saya mulai merasa sedikit enak dengan diri saya karena mengetahui adik saya mengasihi saya dan dia ditemani saya. Tapi tetap saja, saya memotong tangan saya. Saya tidak dapat menghentikannya. Saya masih mempunyai masalah membicarakan masalah saya, dan saya tidak punya seorang dekat pun untuk berbicara. Adik saya hanya berusia 13 tahun, dia tidak akan mengerti apa yang sedang saya alami. Saya berbalik ke Wicca. Saya membiarkan setan menguasai saya. Saya bertumbuh lebih jauh ke dalam sisi gelap, dan disana waktu tahun sophomore saya dimulai.

Pada awal tahun, saya berteman dengan dua orang Kristen dan mulai sangat menyukai seorang laki-laki bukan Kristen. Untuk dapat berjalan bersama dia, saya memutuskan untuk menerima tawaran gadis itu untuk datang ke kelompok pemudanya, walaupun saya tidak percaya pada Tuhannya. Saya berjalan dengan laki-laki ini,dan dia, tapi tidak dengan yang lain. Orang-orang disana memiliki sesuatu yang tidak saya punya, dan saya juga tidak mengingini hal itu pada saat itu. Saya tidak pernah merasa aman disana, namun untuk beberapa alasan, setiap minggu saya berada disana.

Hidup saya semakin sulit dan sulit diatasi. Setan menguasai saya dan memegang saya dengan kuat. Setiap kali saya marah, saya akan teler atau mabuk atau memotong. Saya mengalami saat yang lebih sulit dan sulit bangun pada pagi hari. Akhirnya pada tanggal 2 Maret 2001, saya tidak dapat mengatasinya lagi. Saya tahu saya tidak dapat hidup seperti ini lagi. Saya tidak ingin hidup. Saya berpikir untuk mengambil paxil dan overdosis, supaya jangan hidup lagi keesokan harinya. Sebelum saya melakukannya, saya tahu saya harus berpamitan dengan beberapa orang. Saya berpikir itu tidak baik untuk melakukan bunuh diri tanpa berpamitan dahulu. Saya mulai berbicara dengan laki-laki ini dari klub remaja. Dia menanyakan sebuah pertanyaan yang sangat menyentuh saya. Dia bertanya apakah saya akan pergi ke surga atau neraka. Saya berkata neraka. Dia bertanya apakah saya ingin pergi ke surga, dan saya jawab ya. Siapa yang mau siksaan kekal dibandingkan surga? Lalu mengapa tidak kamu rubah, dia menanyakan saya. saya katakan saya pikir saya tidak mampu. Kemudian dia menuliskan Yohanes 3:16 pada saya. saya membacanya dan membacanya lagi. Sesuatu terjadi pada saya. saya ingin menjadi orang Kristen. Hal berikut yang saya tahu saya ada diatas di rak buku mengambil keluar Alkitab lama yang berdebu. Saya membawanya ke computer. Pada akhir malam itu, saya meminta Yesus masuk kedalam hati saya, dan Dia memasukinya.

Hidup saya telah semakin membaik selama 4 bulan terakhir. Memang sulit pada awalnya untuk menyingkirkan cengkraman setan, namun itu layak. Dengan Tuhan dalam hidup saya, saya dapat melakukan apa saja, dan Dia dapat melakukan apa saja melalui saya. saya telah memberikan hidup saya pada Nya dan yang saya inginkan adalah untuk menyenangkan Nya. Akhirnya saya mempunyai tujuan yang saya cari selama 16 tahun. Perasaan yang luar biasa! Saya hanya punya satu hal yang saya tinggalkan untuk mu. Tuhan memenuhi tempat kosong di hati kita. Saya mencoba memenuhinya dengan kegelapan setan dan narkoba dan alcohol, tapi hanya Tuhan yang memenuhinya. Hidup ini berharga sekarang dan saya punya Tuhan di dalamnya.
Dalam kasihNya selamanya,

Dorrie

HOME

KASIH ALLAH