|
Beberapa orang akan menggaris bawahi antara profesionalisme dan pandangan keagamaan—antara bisnis dan tanggung jawab rohani. Namun saatnya tiba bagi semua orang percaya ketika seorang ahli bisnis harus berserah pada ahli iman. Khususnya ketika keteguhan itu adalah…. Sebagai seorang asisten pimpinan dalam sebuah proyek besar konstruksi pemerintah, saya membawahi sekitar 40 orang laki-laki. Seperti biasa, perniagaan konstruksi membawa berbagai macam orang dari berbagai segi kehidupan. Di kawasan kontsruksi itu, semua laki-laki saling berhubungan. Saya kira itu adalah bagian dari apa yang disebut ikatan para pria. Atau mungkin begitulah para pria bersama, dengan bepergian bersama-sama, meskipun jika hal itu bukanlah diri mereka sesungguhnya. Banyak sekali politik bahkan di perniagaan. Ada semacam kode antara para laki-laki ini. Hampir setiap hari mereka mengeluh, bahkan terjadi keributan. Saya berada di tengah-tengah mereka, berusaha untuk menengahi permasalahan yang terjadi dan mengusahakan semuanya berjalan sesuai jadwal. Bukan sesuatu yang mudah bagi orang Kristen. Setiap hari bekerja keras dan berurusan dengan masalah orang-orang ini akan dengan mudahnya menghabiskan tenaga dan iman saya. Dengan segera saya kelelahan dan lemah dan tidak jauh lebih baik dari keadaan mereka. Saya dapat menyadari diri saya bersumpah serapah dan berkelahi. Saya akan di ancam setiap hari dan dibicarakan di belakang saya. Sangat sulit mengandalkan ketajaman tentang siapa yang dapat saya percaya. Pengharapan saya diuji setiap hari dan dikecewakan setiap hari juga. Pada hari yang khusus, pada akhir proyek itu, saya kelelahan, dan sangat sibuk membereskan segalanya untuk penutupan. Sangat panas dan menderita. Dan ketegangan semakin tinggi. Waktu saya sedang melakukan pengabsenan, seorang lelaki berada disana dan menunggu saya selesai. Dia salah satu mandor di sebuah kelompok yang melakukan pekerjaan berat di kawasan itu. Hari ini dia terlihat gelisah. Dia merokok dan berjalan mondar mandir terlihat sangat serius. Dia juga kelihatan marah; dia orang yang bersifat keduniawian dan memiliki sisi agak keras. Saya sudah terbiasa dengan hal ini. Maka saya menguatkan diri saya untuk hal itu. Namun kali ini berbeda. Dia berkata dia ingin meminta pendapat saya tentang sesuatu. Dia mulai mengatakan pada saya betapa dia mencintai pacarnya Debbie. “Tapi dia usianya 42 tahun,” katanya, “Dan saya khawatir akan kesehatannya.” Saya tertawa dan berkata,”Darryl, saya juga berumur segitu. Mengapa kamu khawatir?” “Karena dia sedang hamil,” katanya. “Dan saya ingin mengakhiri kehamilannya untuk kebaikannya. Dia bisa saja meninggal. Saya sangat mencintainya, dan saya menyerahkan keputusan ini padanya. Namun saya ingin dia melakukan aborsi, karena saya khawatir akan kesehatannya. Kami terlalu tua untuk merawat seorang bayi, dan kami akan menjadi orang tua yang lanjut usia ketika anak tersebut masuk SMA. Di tambah lagi Debbie dapat meninggal dunia. Maka saya pikir untuk menggugurkan kandungannya saja.” Kemudian dia terdiam. Dia memandangi mata saya dengan pandangan yang tajam. Saya berbalik melihatnya dan berkata dengan tenang.”Saya tahu apa yang kamu tanyakan pada saya. Kamu meminta saya untuk setuju dengan mu. Saya tahu itulah yang ingin kamu dengar. Namun saya akan mengatakan kepada mu kebenaran akan hal itu. Kamu meminta saya untuk setuju dengan pembunuh bayimu, anak laki-laki atau perempuan kecilmu. Itu adalah seorang bayi. Dan kamu sedang membicarakan pembunuhan sebelumnya.” Kamu jangan membunuh anakmu. Kamu akan menyesalinya. Debbie akan mendengar anaknya setiap hari, dan dia akan memiliki pandangan yang berbeda tentangmu. Karena dia akan menyesal dengan membuat perasaannya bersalah akan keputusan itu. Kamu akan menjadi seorang pembunuh di matanya. Dan dia tidak akan memaafkan dirinya karena telah membiarkan mu meyakinkannya untuk membunuh bayinya. Darryl naik darah. Saya kira saya akan mati. Dia mulai berteriak,”Saya tahu kamu akan berkata seperti itu! Kamu benar! Saya tidak ingin mendengar hal itu! Biar bagaimanapun juga saya akan melakukannya!” Dan dengan geram dia keluar dari ruangan. Hari Jumat tiba, dan saya sangat sibuk. Saya mengatur para pekerja untuk bekerja pada pagi hari dan Darryl datang dan berkata “Saya pergi lebih dulu pagi ini.” Saya menanyakannya,”Mau pergi kemana?” “Menemui dokter.” Jawabnya. Tanpa berpikir, saya berkata,”Baik, sampai bertemu hari Senin.” Dan saya kembali bekerja. Kemudian pada hari itu saya mengambil persediaan di kota terdekat dan menyentakkan saya bahwa Darryl sedang pergi ke klinik. Saya tidak tahu bagaimana menghubunginya supaya saya dapat menghentikannya. Sepanjang akhir pekan saya berdoa dan tak dapat beristirahat. Saya merasa sedih bahwa saya tidak dapat menangkap apa yang terakhir dia katakan pada saya hari itu. Pada hari Senin, dia tinggal di belakang setelah semua pekerja menuju ke wilayah pekerjaan mereka. Dia meminta untuk bertemu dengan saya. “Saya harus mengatakan sesuatu padamu.” Katanya. “Darryl!” Saya menyela,“ Saya mencoba menghentikanmu dan menghubungimu!” Dia mulai menceritakan pada saya bagaimana mereka pergi ke klinik, tapi sesuatu yang sangat aneh terjadi. “Dave, sesuatu sedang berbicara pada saya dan memanggil nama saya.” Saya pergi mengecek apakah itu suara Debbie di ruangan lain. Dia berkata itu bukan suaranya. Maka saya kembali ke ruang tunggu. Kemudian hal itu terjadi lagi, saya buru-buru kedalam ruangan dimana Debbie sedang menunggu dokter. Kata saya,”Debbie, keluar. Kita harus bicara.” Kami keluar dan saya mengatakan padanya,”Sesuatu berbicara pada saya di dalam ruang tunggu. Mari kita keluar dari sini! Saya akan menjadi seorang Papa!” Darryl berterima kasih pada saya untuk bersikap berani, dengan memberitahukannya apa yang tidak ingin dia dengar tapi perlu untuk di dengar. “Terima kasih dan apapun yang berbicara pada saya di ruang tunggu itu, saya akan menjadi seorang papa. Dan saya ingin kamu tahu hal itu.” Saya menangis ketika Darryl mengatakan hal itu. Saya terharu bahwa saya memainkan peranan kecil dalam keputusan itu. Saya menjelaskan padanya bahwa itu adalah Roh Kudus yang berbicara padanya hari itu. Melalui sepanjang keseluruhan proyek itu, saya sering kali bertanya pada Tuhan, mengapa saya ada disini? Apakah ada maksud dalam keberadaan saya di tempat ini? Saya belajar bahwa kita hanya perlu menggunakan ketajaman, dalam kehidupan kita sehari-hari. Kesempatan itu ada disana, kita hanya perlu untuk menyiapkan hidup kita untuk dapat dipakai Nya. Saya dapat dengan mudah kehilangan kesempatan saya untuk bersaksi dan menolong menyelamatkan seseorang. |