O maut, dimanakah sengatmu?
Oleh. David F.Calderon II

Saya dapat menutup mata dan masih dapat melihat ayah saya tersenyum dan bahagia bersama kami. Di sebuah taman tak jauh dari pemakaman ini, sebuah musim semi yang indah beberapa tahun yang lalu. Semua kami anak-anak, bertujuh ditambah dengan ibu saya sedang duduk mengelilinginya sangat ingin belajar pelajaran yang lain. Ayah saya suka mengajarkan kami tentang banyak hal. Ayah saya senang keluarganya mengelilinginya dan kami sangat mencintainya.

Di pagi yang khusus ini bunga-bunga sedang bermekaran dan itu adalah hari yang cerah dan bersih. Ayah saya akan memandang dan tersenyum pada kami saat dia mempersiapkan sebuah tema yang mengejutkan. Ada kupu-kupu dan burung dan lebah dimana-mana. Ayah saya menangkupkan tangannya ke sebuah bunga dan menangkap seekor lebah. Kami semua terkejut dan takut dan juga sangat senang. Beberapa adik perempuan saya mulai berteriak dan menangis. Mereka takut pada lebah dan kuatir kalau ayah saya akan tersengat. Tapi ayah saya memegang sayap lebah itu dan membiarkan lebah itu menyengat tangannya. Dia menarik penyengat yang berdenyut itu dari tangannya dan membuangnya.

Masih dengan senang dan menjerit, kami mulai menyaksikan bagaimana ayah bermain-main dengan lebah. Dia menyuruh saya untuk menaruh lebah itu ditangan saya. Saya ketakutan. Dia menjelaskan bahwa lebah itu tidak dapat menyakiti saya karena dia telah mencopot penyengat yang berbisa itu. Maka dengan agak enggan dan berhati-hati saya mulai membiarkan lebah itu berjalan di tangan dan lengan saya dan sebelum saya mengetahuinya, saya tertawa dan cekikikan dan menunjukkan lebah itu kepada kakak laki dan perempuan saya.

Saya tidak akan pernah melupakan hari itu. Sedikit yang kami tahu, bahwa pelajaran yang kami akan pelajari hari itu, akan menjadi pelajaran yang terbesar. Lihatlah, hampir 2000 tahun yang lalu, Yesus Kristus membuang sengat itu dari maut ketika Dia mati di kayu salib. “O Maut, dimanakah sengatmu? O Maut, dimanakah kemenanganmu?” (1 Korintus 15:55). Dia hampir memberitahukan kami menantang maut untuk unjuk gigi. Maut sudah tidak berarti karena kematian Yesus Kristus di kayu salib bagi kita.

Mengingat kembali pelajaran itu nanti akan membantu kita menanggung apa yang tidak bisa dihindari. Ketika ayah saya meninggal, kami semua mengingat pelajaran itu yang sekarang menolong kami untuk mengerti bahwa ayah saya terus hidup. Dia hidup bersama Yesus dalam kekekalan. Sekarang, kita semua menantikan saatnya ketika kami duduk mengelilingi ayah saya kembali di surga bersama Yesus. Hidup tidak harus berakhir di kuburan. Kuburan hanya sebagai permulaan.

Saya bertanya pada Yesus,”Berapa besar kamu mengasihi saya?”
“Sebesar ini,” JawabNya, dan Dia merentangkan tanganNya dan mati.

HOME

KASIH ALLAH