|
Salah nomor ? Atau janji Illahi ?
Siapa yang akan menelepon selarut ini? Saya bingung, ketika saya mengangkat
telepon. Meskipun saya setengah tertidur, saya merasakan keputusasaan
di suaranya.
“Tidak, tidak ada orang yang bernama itu disini,” Kata saya.
“ Kamu pasti salah nomor.”
Saya berguling lagi dan mencoba untuk kembali tidur. Akan tetapi, suaranya
yang bergetar, bergema di pikiran saya. Saya tidak dapat tidur. Telepon
berdering lagi.
Dengan suara yang bergetar, dia bertanya lagi tentang putrinya. Dia kentara
sekali habis menangis.
“Tidak, anda salah nomor,” Saya berkata lagi.
“Itu tidak mungkin!” Dia memaksa. Saya mengajaknya bicara.
Dia terdengar sangat putus asa. Tapi saya malu.
Saya tutup teleponnya, tapi roh saya berduka. Tuhan, apakah ada harapan
untukku ? Saya berdoa. Malu dengan diri saya, saya belum dapat memberitahukan
apa yang saya rasakan Roh mendorong saya untuk mengatakannya. Saya tahu
saya telah mendukakan Roh Kudus. Saya ingat Yesus berkata, bahwa jika
kita malu akan Dia dihadapan orang, maka Ia juga malu akan kita dihadapan
Bapa. Saya berdoa untuk pengampunan dan keberanian untuk setia pada kesempatan
selanjutnya yang diberikan.
Tetapi saya tidak dapat percaya ketika telepon kembali berdering. Waktu
itu pukul 1.00 dini hari.
“Apakah ada sesuatu yang salah? Kamu butuh untuk bicara?”
saya memaksa untuk bertanya saat ini. (tentu saja Tuhan telah mendengar
doa saya segera).
“ Oh, Ya!” Dia melontarkan kata-kata. “ Saya menelepon
dari rumah sakit. Saya dijadwalkan untuk operasi jantung pada jam 5 pagi,
dan saya mencoba untuk menelepon putri saya karena saya sangat kuatir,
saya tidak dapat tidur.”
“Saya tidak mengerti bagaimana saya terus mendapatkan Anda,”
Dia menambahkan, dengan menyesal. “ Saya tahu nomor telepon putri
saya dalam hati. Dia telah memilikinya bertahun-tahun; dan saya meneleponnya
setiap hari!” Katanya, membingungkan.
“Tidak mengapa,” kata saya. “Saya pikir saya tahu mengapa
sambungannya terus salah,atau apakah yang terjadi.”
“Apakah kamu takut akan meninggal?” Saya bertanya, dengan
jelas memaksa untuk berbicara. “Karena itulah mengapa kamu marah,”
saya menjelaskan, “Alkitab mengatakan kita bisa mengetahui apa yang
kita punya sekarang miliki kehidupan kekal.”
Dia mendengarkan dengan tenang sambil saya melanjutkan untuk membagikan
kata-kata kehidupan dan damai melalui iman dalam Yesus Kristus. Sesudah
itu, penelepon itu berdoa dengan keras bersama saya untuk doa keselamatan.
“Saya tidak pernah merasakan kedamaian seperti ini!” Katanya.
Bahkan suaranya terdengar berbeda.
“Anda bahkan tidak marah pada saya,” katanya dengan heran,
“dengan meneleponmu ditengah malam bukan hanya sekali atau dua kali,
tapi tiga kali!”
“Tuhan sudah sangat bersabar dengan saya,”Saya menjawab. “Pikirkan
hal itu. Kita dapat memanggilNya kapan saja. Dia terjaga sepanjang malam”
Kami tertawa. Saya membagikan beberapa ayat Alkitab. Khususnya dia menyukai
Mazmur 86:7 “Pada hari kesesakanku aku berseru kepada-Mu..”
kemudian kami mengucapkan selamat malam.
Saya tidak pernah mendengar dari dia lagi. Apakah dia bertahan atau tidak
dari operasi jantung itu beberepa jam kemudian, saya tidak akan pernah
tahu. Tapi satu hal yang saya yakini: Malam itu, Tuhan telah memberikannya
hati yang baru.
Seringkali saya terheran berapa banyak kesempatan lain yang saya gagal
membagikan tentang injil. Atau berapa kali kesaksian saya mugkin telah
dihancurkan melalui ketidaksabaran atau keegoisan dibandingkan belas kasihan
dan keterbukaan terhadap tuntunan Roh.
Kita tidak akan pernah tahu kapan kesalahan yang nyata atau kebetulan
terjadi, kenyataannya, sebuah perjanjian yang Ilahi.
HOME
KASIH ALLAH |