|
10 tahun yang lalu di Montserrat, saya membangun sendiri sebuah rumah dengan lima kamar tidur di sebuah tempat yang luar biasa dimana gunung dan laut selalu dalam pandangan. Saya merasa diri saya berhasil. Kemudian saya menikah dan membeli mobil. Saya kira saya tidak harus pergi kesatu tempat ke tempat yang lain untuk membayar sewa, ternyata saya salah. Ledakan gunung berapi terjadi (dimana kami bersemangat untuk mengalaminya, tanpa mengindahkan bahayanya) dan mengubah semua kenyamanan itu. Kami terpaksa keluar dari rumah kami ke dalam suatu kehidupan yang tidak pernah terpikirkan terjadi. 17 September 1996, satu tahun dua bulan setelah gunung berapi meletus, kami dikejutkan dengan suara dari gunung seperti sebuah mesin penggiling raksasa. Terdapat butiran debu dengan api, kilat dan guruh. Itu seperti sebuah “cahaya bintang” raksasa dengan benda merah dan panas berjatuhan disekitarnya. Batu-batu berjatuhan seperti pohon mangga yang terguncang Saya berpakaian, mengambil tas darurat saya dan membangunkan tetangga saya, yang sedang tertidur. Saya katakan pada suami saya,”Ayo” dan dia bertanya “Kemana?” saya katakan padanya terserah jika dia ingin tetap tinggal disini, tapi saya lebih baik mati mencoba untuk keluar dari pada mati tanpa berusaha apa-apa. Kami masuk ke mobil bertumpuk-tumpuk bersama tetangga kami, suaminya, nenek dan anaknya. Kami mulai meloloskan diri ke daerah yang aman. Batu-batu yang berjatuhan ukurannya antara sebesar bola tennis dan buah kelapa. Saya pikir kami akan hancur di dalam mobil. Kami baru berjalan setengah mil dan kami sudah tidak dapat melihat apa-apa, kaca dan lampu depan Saya terkejut melihat bahwa dia telah mematahkan sebuah jendela berukuran tebal menjadi dua dan merangkak melalui celah kecil itu masuk kedalam toko. Saya memanggil yang lainnya, dan bersama-sama kami merangkak melalui celah itu kedalam toko. Kami mengira-ngira jalan disekitar kami dan menemukan beberapa kursi dan baru saja duduk ketika telepon berbunyi. Saya punya ide dan mengira-ngira jalan menuju ke bunyi telepon itu. Ketika teleponnya berhenti berbunyi, saya mengambil telepon itu dan dengan meraba-raba memencet nomor telepon sepupu saya. Saya mengatakan padanya dimana kami berada, mengetahui bahwa tidak ada yang dapat dia lakukan untuk kami, tapi paling tidak dia akan tahu dimana menemukan mayat kami. Saya tahu kami akan mati dan dia juga tahu, terdengar dari kesedihan di suaranya. Saya juga menghubungi ke keluarga yang lain dan duduk disebelah suami saya, ketika tetangga saya bertanya apakah saya akan berdoa dengannya dan keluarganya. Dipihak lain, suami saya menyuruh saya untuk duduk disebelahnya supaya kami bisa mati bersama. Saya berdoa bersama dengan keluarga itu dan duduk disebelah suami saya. Kehidupan saya terlihat sekilas dihadapan saya, bukan rumah, bukan mobil, namun kehidupan rohani saya. Apakah itu berkenan bagi jiwa saya dan Juruselamat, sudah saya melakukan yang terbaik bagi Yesus, adakah yang saya lakukan atau tidak saya lakukan dalam perjalanan kekristenan saya yang akan menghalangi saya ke surga? Seketika damai sejahtera turun atas saya, kedamaian yang tak dapat saya lukiskan dan saya tahu saya sudah siap. Saya berpikir tentang orang-orang di pulau sekitarnya dan heran apakah mereka sadar betapa beruntungnya mereka dapat menghirup udara segar dan hidup dalam kehidupan tanpa stress. Saya berpikir tentang sering kali suami dan saya meninggalkan Montserrat dan kembali hanya untuk mati. Saya terperangkap dengan pemikiran saya sehingga saya tidak menyadari bahwa batu-batu itu telah berhenti berjatuhan. Kami merangkak melalui celah itu dan mengira-ngira jalan kami menuju ke mobil. Puing-puing di atas mobil kira-kira setebal 3 inci, dan seperti semen, menempel di lampu dan kaca mobil. Kami membersihkan puing-puing itu dari mobil dan melanjutkan ke daerah yang aman. Hal yang ajaib tentang hal ini adalah semua batu-batuan yang berjatuhan itu, tidak satu pun yang mengenai kami. Bayi itu tertidur dengan pulas melalui semuanya itu. Seperti seorang malaikat yang menidurkannya. Kami membayar sewa kembali karena kami kehilangan rumah kami dengan hampir seluruh harta milik kami. Kata-kata Salomo yang terkenal dalam Pengkotbah pasal 1,”Segala sesuatu adalah sia-sia dan roh kekecewaan” datang dalam pikiran. Jangan bersandar pada harta kekayaan di dunia dimana ngengat dan karat dapat menghabiskannya. Apa yang kami bangun bertahun-tahun hanya perlu beberapa detik untuk menghancurkannya. Hanya hubungan kami dengan Yesus yang akan bertahan dan saya punya pengharapan. Satu tahun kemudian terjadi letusan lagi dan saya harus pergi bersama dengan teman saya untuk mengidentifikasi suaminya. Beberapa mayat terbakar dan tidak dapat dikenali; beberapa yang lainnya diidentifikasi berdasarkan potongan benang pakaian yang melekat ditubuh yang terpanggang itu. Saya berdoa dalam hati saya untuk mereka dan bersyukur pada Tuhan untuk menyelamatkan saya di tahun yang lalu. Kami mengasuransikan rumah kami, hidup, mobil dan bahkan perabotan kami. Namun bagaimana dengan jiwa kami? Ketika kami meninggal kami tidak mengirimkan kepada agen asuransi kami untuk mengetahui apakah manfaat kami akan ditangani, kami memanggil Tuhan. Perusahaan asuransi mengalami kebangkrutan dan pergi meninggalkan kami tanpa sepeserpun, namun kami memiliki Tuhan perlindungan kami. Jika anda bertanya apa ide mereka tentang kehidupan yang berhasil, mereka akan menjawab uang, rumah yang besar, mobil dan keluarga. Tapi bagaimana dengan Tuhan? Bukan dosa untuk menjadi kaya, Alkitab mengatakan dalam 3 Yohanes 1:2 bahwa “Tuhan berharap semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.” Tetapi kita jangan membiarkan hal ini menghabiskan kita. Biarkan Yesus bertahta dalam hati dan hidup kita. Hanya mintalah Yesus untuk mengampuni dosa-dosa mu dan datang dalam hidup mu. Langkah selanjutnya adalah dibaptis, pelajari Alkitabmu (Tuhan berbicara denganmu) berdoa, (kamu berbicara dengan Tuhan) dan bagikan firmanNya kepada yang lain (kamu berbicara untuk Tuhan). Tulisan saya ini bukan untuk mendapatkan pujian atau rasa kasihan, tapi untuk membagikan padamu akan panjang dan nafas cinta dan belas kasih Tuhan. Kami kehilangan rumah kami tapi rumah kami ada di surga.
|