Kata peringatan yang datang

Saya anak lelaki berumur 5 tahun dan ayah saya melayani di kota Bhopal, di pusat Negara India sebagai seorang pendeta di sebuah gereja.

Saat itu tanggal 2 Desember 1984 dan saya kira banyak dari antara kamu yang mengetahui tentang tragedi di kota Bhopal pada waktu itu melalui surat kabar dan televisi.

Hari Minggu pagi itu ayah saya seharusnya pergi ke India selatan untuk menghadiri beberapa pertemuan pada malam harinya dan segalanya termasuk tiketnya sudah siap. Barang-barang dan segalanya untuk perjalanan itu. Dia sedang kebaktian Minggu dan pada akhir ibadah dia berdiri untuk berkotbah dan tiba-tiba Roh Kudus menuntun dia untuk berkotbah topik yang sama sekali berbeda dari yang telah ia siapkan, dan itu adalah mengenai kota Sodom di dalam Alkitab.

Dia berbicara tentang penyebab dan dosa yang menyelimuti kota Sodom dan bagaimana Tuhan memutuskan untuk menghancurkannya. Waktu Roh Kudus berbicara dengannya, dia menunjuk kepada salah seorang wanita yang duduk di belakang dan berkata padanya untuk bersiap-siap lari seperti istri Lot.

Ketika ayah saya berkotbah, Roh Kudus mengatakan padanya untuk jangan pergi ke selatan untuk pertemuan itu dan dia mengatakannya di gereja bahwa dia membatalkan tiketnya untuk ke selatan dan saya ingat bahwa ada rapat panitia setelah ibadah Minggu mengenai kotbah dan pembatalan pertemuan itu.

Kemudian ayah saya mengatakan bahwa saya tidak akan pergi jadi selesailah. Tiketnya dibatalkan, dan sore berlalu dan datanglah malam. Tidak seorang pun di bumi yang mengharapkan sebuah bencana akan terjadi di kota di mana terdapat damai dan ketenangan.

Meskipun Roh Kudus telah berbicara pada ayah saya tentang perusakkan kota itu dan kami tidak yakin kapan hal itu akan terjadi.

Namun bencana itu terjadi tepat pada malam itu. Itu adalah malam yang dingin di bulan Desember, saat Natal dan saat itu jam 10 malam. Seperti biasa saya di kamar tidur setelah doa bersama keluarga dan secara tiba-tiba saya dapat mendengar suara bantingan pintu!!!

Ayah saya membuka pintu dan tidak seorang pun kecuali wanita yang ayah saya nubuatkan dan menyuruhnya untuk berlari seperti istri Lot dan mungkin dia berada pada situasi yang sama berlari seperti istri Lot dan datang ke tempat kami.

Kami dapat melihat wajahnya yang ketakutan dan dia berteriak dan memberitahukan kami untuk berlari paling tidak 25 km dari daerah itu karena terjadi kebakaran di pabrik gas. Ada kebocoran dan seluruh kota berada di bawah pengaruh gas itu. Gas yang bocor itu sangat beracun dan siapa pun yang menghirupnya akan mati.

Kemudian wanita itu berlari pergi untuk menyelamatkan dirinya dan ayah saya menyuruh ketiga anaknya. Saya mempunyai 2 orang kakak perempuan dan ibu saya untuk bersiap-siap keluar dan meninggalkan tempat itu.

Saya ketakutan, dan akhirnya kami keluar dari rumah dan saya dapat melihat ribuan orang berlarian di jalan. Kota itu penuh dengan malapetaka. Mereka berteriak dan berlarian. Beberapa ibu-ibu kehilangan anak-anak mereka dan anak-anak menangis dan tidak ada orang yang memperhatikan mereka dan mungkin mereka telah meninggal dalam kerumunan, karena tidak ada orang di sana yang peduli atas apa yang sedang terjadi. Semua berlarian…ratusan orang meninggal di jalan pada malam yang dingin itu.

Ayah saya menunjukan sebuah contoh pada saya tentang iman yang kuat dan mengatakan pada kami untuk tidak berlari namun berjalan. Kami semua terkejut dan berpikir mengapa kami tidak berlari di mana semua orang berlari untuk menyelamatkan nyawa mereka.

Namun sekarang saya tahu bahwa kita sebagai anak Tuhan. Ketika kesulitan datang, seharusnya kita tidak berlari tapi menghadapinya dengan iman. Saya takut dan memegang tangan ayah saya sangat kuat karena ketakutan yang telah mencengkram saya.

Ada pelayanan truk yang datang untuk mengangkut orang-orang khususnya anak-anak dan wanita ke tempat yang lebih aman dan saya ingat salah satu truk berderit di samping saya dan mereka meneriakkan ke semua orang. Mereka menyuruh saya untuk naik ke atas truk dan saya sangat putus asa dan saya ingat ketika saya hendak naik ke truk itu dan ayah saya memegang tangan saya dan mengatakan pada saya untuk berjalan dan jangan panik dan berlari untuk naik ke truk itu.

Saya tidak dapat mengerti hal-hal ini karena saya baru berusia 5 tahun pada saat itu namun sekarang ketika saya mengingat kembali semuanya yang telah terjadi, dapat saya katakan bahwa hal itu adalah 100% iman yang dengan ajaib menyelamatkan saya dan keluarga kami dari musibah itu.

Ketika ayah memegang tangan saya dan berjalan di malam yang dingin, sekarang saya dapat membayangkannya dengan baik bahwa dengan cara yang sama Tuhan memegang tangan kita dan berjalan bersama dengan kita dan ketika bencana dan kesusahan datang dalam hidup kita.

Sering kali kita berlari melepaskan tangan Nya…melupakan bahwa kita sedang memegang tangan Tuhan Yang Maha Besar yang menciptakan kamu dan saya. Saya hanya ingin menguatkan kamu bahwa apa pun kesulitan yang datang dalam hidupmu, milikilah iman dan ingatlah bahwa kamu memegang tangan Sang Pencipta surga dan bumi dan kamu juga tentunya.

Malam itu Tuhan telah tinggal dalam hidup saya, iman yang nyata untuk mempercayai Dia setiap waktu ketika kesulitan melingkupimu dan pujilah Tuhan ketika ribuan orang di kota itu binasa, kita tetap hidup memuliakan nama Tuhan.

Saya harap kamu diberkati dan akan memiliki iman dalam Tuhan ketika kesulitan datang.
 

HOME

MUJIZAT