|
Sesuatu yang kamu lakukan karena “itu ide yang bagus.” Sebagai contoh adalah melakukan mammogram secara rutin. Dokter duduk di hadapan saya, dengan mendekat dan berkata,”Barbara kamu mengidap kanker.” Setelah itu suara dokter terdengar samar-samar dibalik pikiran saya. Seperti kebanyakan orang yang menghadapi sebuah tragedi, mereka berbalik pada Tuhan. Mungkin saya akan berjumpa dengan Nya segera. Saya telah mengalami banyak kekesalan sebelumnya, namun tidak pernah pada kemungkinan akan kematian. Lebih dari dua puluh tahun yang lalu, kakak lelaki saya Gary memberitahukan saya tentang Tuhan yang baik dan penuh belas kasihan dan Anak Nya, Yesus. Gary telah mengenal dan mengasihi Anak Tuhan ini. Ketika dia mengatakan pada saya bahwa saya juga dapat mengenal Yesus seperti dirinya, saya menerimanya tanpa ragu-ragu, tidak mengetahui segala sesuatu ajaib yang Dia sediakan bagi mereka yang menerima Nya. Namun pada akhirnya tetap saja ada kematian dan penderitaan. “Apakah ini nyata? Hal ini tidak dapat terjadi pada saya. Saya menangis dalam hati. Tuhan, di manakah Engkau? Bahkan saya mendapati diri saya mempertanyakan kenyataan dari semua yang saya ketahui tentang Dia. Namun mengapa saya baru mulai mempertanyakannya sekarang, setelah semua yang saya alami bertahun-tahun, bertahan hidup dalam kesengsaraan, sering kali menderita. Semuanya dimulai dengan cara yang biasa, sedikit penyakit, tidak dipedulikan. Namun hal itu tidak terus biasa-biasa saja. Dokter mengatakan saya mengidap,”Infeksi mononucleosis.” Pada usia 16 tahun, saya dibatasi tidur selama 6 minggu dengan kepayahan yang hebat dan temperature tubuh yang tinggi. Itu hanya satu kejadian dari daftar panjang penyakit saya. Beberapa tahun kemudian, punggung saya sangat sakit, saya di masukan di rumah sakit karena menderita hernia (turun berok / peranakan yang turun). Di usia 20 an saya hamil dan mengalami muntah-muntah dan kepayahan selama 9 bulan. Ditambah lagi dengan alergi pada banyak jenis makanan dan sebagian besar obat-obatan yang seharusnya menolong saya. Saya pergi ke anaphyletic shock dan harus membawa epinephrine untuk menghentikan reaksi alergi yang hebat. Kemudian semuanya semakin memburuk. Dengan kebulatan hati yang ada akhirnya saya memiliki pekerjaan selama 14 tahun. Kemudian saya bergulat dengan 3 macam virus yang tubuh saya tidak dapat lawan dan dihilangkan. Tiga tahun kemudian saya berhasil mendapatkan pekerjaan yang lain tetapi kemudian harus berhenti karena saya menjadi alergi terhadap tinta printer. Saya mendapatkan serangan darah tinggi dan gejala stroke. Selanjutnya mengalami ketidak mampuan mengeja dan keram otot. Kelihatannya segala sesuatu tidak semakin membaik. Para dokter tidak mampu menemukan akar permasalahannya. Dan dalam beberapa tahun sistem kekebalan tubuh saya semakin lemah. Maka dengan kemunduran kesehatan demikian saya sudah siap untuk kejutan-kejutan baru lainnya. Sekarang saya harus berhadapan dengan kanker. Saya mendengar,”Kita akan melakukan operasi secepatnya agar kankernya tidak menyebar.” Hasil operasi itu menghancurkan. Dokter spesialis yang lain dengan segera berunding. Dia katakan,”Ada kanker yang lain, yang ganas dan dengan jenis yang beresiko tinggi. Kamu perlu melakukan pencangkokkan tulang sumsum segera setelah donor ditemukan. Sesudah itu kamu akan di inkubasi selama satu bulan karena kamu akan memiliki sistem faktor kekebalan tubuh yang kosong.” Dia menjelaskan bahwa biayanya sekitar sepertiga juta dollar. Perusahaan asuransi suami saya menyatakan bahwa prosedur itu bersifat “percobaan” dan menolak untuk membayarkannya, mereka mengatakan hidup saya hanya berharga sedikit. Mereka ingin aman karena saya sakit parah untuk dapat bertahan. Saya merasa sedih pada suami saya, mengetahui apa yang dia sedang alami. Dia tidak pernah mengeluh dan dia akan bersedia melalui neraka bersama saya jika itu yang harus dilakukan. Namun tanpa kami ketahui, Tuhan campur tangan. Salah seorang teman saya bekerja pada sebuah spesialis kanker. Atas anjurannya saya berbicara pada spesialis itu. Menurutnya kami bisa mengalahkan kanker itu tanpa pencangkokan. Namun perawatannya tetap akan menyakitkan selama 7 bulan menjalani kemoterapi., diikuti dengan radiasi. Saya mengijinkan, namun setelah satu bulan saya menjadi sangat sakit hingga dia menghentikan kemonya dan merujukkan saya pada ahli nutrisi. Dia menyuruh saya meminum 150 vitamin setiap hari dengan diet makanan organik dan juice. Setelah sebulan dalam programnya saya mampu menjalani 6 bulan sisa masa kemonya. Kankernya terkalahkan. Saya memuji Tuhan untuk menuntun saya pada dokter yang khusus itu, ahli nutrisi dan diet yang mengubahkan hidup. Yang saya tidak dapat mengerti adalah mengapa dia mengijinkan kejadian buruk berikutnya menimpa saya. Herman dan saya telah menikah selama 30 tahun. Dia selalu menolong dan mengasihi saya melalui semua kesengsaraan saya. Sejujurnya saya berpikir saya akan mati tanpa dia. Sekarang kankernya telah hilang, kami sering membicarakan tentang pensiunnya, bagaimana kami dapat berjalan-jalan dan menikmati memancing. Akhirnya kami akan melihat hal-hal indah bersama dan menikmati kelimpahan hidup. Kemudian saya harus membawa Herman ke ruang emergensi. Dia menderita kesakitan hebat di dadanya dan tekanan darah yang tinggi sekali. Dia dinyatakan menderita Pneumonia, namun beberapa hari kemudian jadi semakin parah. Pemeriksaan CAT scan menunjukan bahwa ada sebuah urat nadi yang koyak maka dipanggillah ahli bedah saluran darah. Dengan segera dia membatalkan janjinya pagi itu dan menjadwalkan Herman untuk di operasi. Operasinya berjalan dengan baik tapi terbentuk sebuah gumpalan darah dan dia harus dikembalikan secepatnya ke ruang operasi. Herman mengalami koma. Keesokan malam ginjalnya mengalami kegagalan. Beberapa hari kemudian dokternya mengatakan dia terkena stroke dan akan lumpuh seumur hidupnya. Keadaannya terus memburuk selama 6 minggu dan dibawa ke rumah sakit. Dia tidak pernah keluar dari koma. Herman saya tersayang meninggal. Saya tidak ingin hidup tanpa suami yang saya sayangi. Saya menangisi kematiannya dan diri saya sendiri. Saya memanggil Tuhan dan Dia seperti seorang ayah yang lembut memeluk seorang anak yang terluka, memeluk saya dalam pelukan Nya yang nyaman, dalam, hangat, dan damai Nya. Dan akhirnya jiwa saya yang tersiksa beristirahat. Seperti seekor domba merindukan air susu induknya demikianlah saya lapar akan Tuhan. Bapa saya. Menonton televisi, saya mengetahui jadwal penginjil kesembuhan yang mengajarkan dalam program “Jesus’ healing today through ordinary Christians.” Saya menghadiri kelas itu selama musim gugur tahun 1996 dan musim gugur tahun 1997 Yesus menyembuhkan banyak penyakit : thyroid saya, gallbladder (hati) dan virus jangka lama. Dia terus menyembuhkan sistem kekebalan tubuh saya. Sekarang saya dapat menggendong anjing saya, memindahkan perabotan, membungkuk dan berjalan jauh, tanpa rasa sakit. |