Aborsi

Dua puluh tahun yang lalu, saya melakukan aborsi. Hati saya masih sakit tentang apa yang saya lakukan pada bayi saya dan pada Tuhan. Tuhan memberikan saya hadiah dan saya tidak menerimanya., karena saya tidak dapat melihat betapa indahnya hal itu. Bahkan Tuhan menunjukan bayi itu dalam mimpi saya. Dia berusia sekitar 1 tahun, terbaring di tempat tidur dengan mengenakan baju yang indah. Dia memiliki kulit sedang dan rambut berwarna gelap.

Tuhan mencoba meraih saya, tapi pada usia ke 23 tahun saya terlalu egois. Saya mematikan perasaan saya dan memfokuskan diri pada hal-hal yang praktis. Saya tidak dapat mengurus diri saya sendiri dan merasa tidak mau membesarkan bayi saya dalam kehancuran. Saya meyakinkan diri saya bahwa saya melakukan hal yang tepat, karena saya dibesarkan dalam kekurangan dan saya tahu betapa sulitnya itu.

Saya menemukan banyak sekali cara untuk membenarkannya pada diri saya. Saya mengatakan pada diri saya bahwa saya tidak punya pilihan selain melakukan aborsi. Saya sangat mencintai pacar saya dan merasa yakin tidak ingin menghancurkan hidupnya atau membuatnya terpaksa menikahi saya.

Saya pernah mendengar tentang adopsi bayi, tapi saya meyakinkan diri saya bahwa saya tidak cukup kuat untuk menyerahkan bayi saya pada orang lain. Jadi saya tidak pernah membiarkan diri saya memikirkan pilihan-pilihan itu. Selain itu saya juga malu jika orang tahu saya hamil. Saya malu karena sepanjang hidup saya, saya telah mencoba dengan keras untuk melakukan hal-hal yang benar, menjadi anak baik-baik. Saya tidak ingin mengecewakan siapapun.

Yang tidak terpikirkan adalah bahwa saya mengecewakan Tuhan dan bayi saya. Saya mengatakan pada diri saya menjadi kuat dan mandiri walaupun kenyataannya saya lemah. Saya ambil jalan pintas. Saya telah belajar untuk selalu berani berbuat yang benar, karena hal itu adalah yang paling menantang untuk dilakukan. Maka pilihan yang mudah sering kali menjadi pilihan yang salah.

Setelah aborsi tersebut, saya merasa kepedihan tidak seperti biasanya. Saya merasa seperti Hawa yang sedang menyembunyikan kesalahannya dari Tuhan. Saya merasa benar-benar ingin sendiri. Sepertinya Tuhan telah meninggalkan saya. Lalu datanglah perasaan bersalah itu. Saya membenci diri saya atas perbuatan saya. Saya tidak menyangka saya mampu melakukan perbuatan semacam itu. Hal yang tidak masuk akal antara siapa diri saya dan apa yang telah saya lakukan sangat besar. Saya menderita depresi yang sangat dalam dan panjang.

Lima tahun kemudian, saya menikahi suami saya sekarang. Saya memberitahukannya tentang aborsi itu. Saya memiliki kesulitan dalam mengampuni diri saya sendiri. Ketika hal itu berbalik pada saya bahwa saya tidak juga hamil, saya mengalami depresi lagi dan merasa bahwa saya sedang dihukum oleh Tuhan. Kami mengadopsi seorang anak perempuan berusia 3 tahun dan dua tahun kemudian; setelah menikah sebelas tahun, Tuhan mengatakan bahwa Dia telah mengampuni saya. Saya hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki yang tampan (saya juga bermimpi tentangnya)

Sekarang saya merasa dipanggil Tuhan untuk menolong penghentian praktek aborsi ini. Dia telah membuka mata saya dan menunjukan pada saya bahwa hidup ini bukan hanya mengenai hal yang praktis namun tentang kasih. Kasih yang Dia miliki untuk kita sebagai Bapa dan juga membagikan kasih itu kepada yang lain dalam kita menjalani hidup.

Saya juga merasa sangat perlu untuk membuat anak-anak muda bertanggung jawab atas tindakan mereka. Seharusnya mereka tidak dapat pergi begitu saja seolah-olah tidak pernah terjadi. Mereka juga sama bertanggung jawabnya dengan wanita. Mereka juga perlu diajar tentang aborsi juga.

HOME

PERTOBATAN