Awal baru - Yesus menyelamatkan hidupku

Saya sudah pergi kegereja sepanjang ingatan saya. Ibu saya membantu di tempat penitipan anak dan ayah mengajar kelas sekolah minggu saya. Hidup bersama Yesus adalah satu-satunya kehidupan yang saya tahu, hanya itulah kehidupan yang saya jalani.

Waktu saya berusia 13 tahun saya mengetahui bahwa orang tua saya merokok marijuana. Bagi saya itu adalah hal yang besar. Pada saat itu kakak tertua saya juga sedang mengalami masa kesulitannya. Berpesta adalah hal utamanya dan tidak ada yang dapat menghentikannya baik orangtua saya maupun polisi. Dengan segala hal yang terjadi di rumah saya, jujur saya katakan, hal itu membuat saya sangat penasaran tentang bagaimana rasa “melayang” yang tiap orang katakan. Saya kira itu adalah hal yang luar biasa karena keluarga saya menyembunyikannya dari tiap orang bahkan saya. Maka saya meminta kakak saya untuk merokok bersama saya untuk pertama kali. Dan dia melakukannya. Semuanya berubah saat saya mencobanya. Pemikiran saya tentang narkoba, tentang saya, kehidupan, dan tentang Tuhan. Tidak ada yang sama. Segera marijuana menjadi hal yang saya gumuli tiap hari. Menjadi pusat dunia saya. Tidak lama setelah itu, marijuana menjadi kuno. Kemudian saya mendengar tentang ekstasi. Saya diberitahu bahwa rasa “melayang” yang saya rasakan tidak ada bandingnya. Mereka benar. Saya sangat menikmati obat itu dan saya menggunakannya hampir tiap akhir pekan.

Sampai usia 14 tahun, saya sudah berpengalaman dengan marijuana, ekstasi, kokain, LSD, pil-pil yang baru muncul, dan setiap obat-obatan yang ada. Narkoba adalah hidup saya. Itu adalah segalanya yang saya ingin dan butuhkan. Jika tiba saatnya saya kehabisan atau tidak punya uang untuk membelinya, saya akan lakukan apa saja untuk mendapatkannya. Bahkan jika itu berarti saya harus menjual diri saya. Saya jadi kecanduan untuk bisa “melayang”.

Pada waktu ini, orang tua saya semakin kuat dalam perjalanan mereka bersama Tuhan. Mereka terlepas dari marijuana dan melakukan apa yang mereka bisa lakukan untuk membawa saya agar memiliki hubungan dengan Tuhan seperti mereka tahu saya membutuhkannya. Saya tidak mau melakukannya. Saya menikmati tindakan pemberontakan remaja. Saya mengetahui bahwa saya bermasalah dengan narkoba, tapi saya tidak peduli. Saya menyukai narkoba dan saya tidak menginginkan pertolongan apapun.

Disekolah, saya jarang pergi ke kelas dan nilai-nilai saya seluruhnya menurun. Saya juga mulai memiliki hubungan seksual dengan pelatih lari saya di sekolah. Dia akan mengundang saya kerumahnya untuk “menjaga” anaknya yang berusia 5 tahun. Sebetulnya saya dibayar bukan untuk menjaga bayi. Di rumahnya saya mendapatkan ekstasi gratis, satu malam berpesta tanpa henti, sex, dan uang. Itu adalah impian semua gadis pencandu narkoba.

Setelah beberapa bulan “menjaga bayi”, kami menghentikan pesta rahasia kami. Saya berhenti mengikuti latihan lari karena saya merasa tidak nyaman terlihat lalu berhenti pergi ke sekolah dalam ketakutan jika seseorang mengetahuinya dan akan menentang saya akan hal itu. Pada usia 15 tahun, saya dikeluarkan dari SMA. Kecanduan narkoba saya semakin meningkat dan hidup saya semakin mendekati akhir.

Seperti para orang tua lainnya, orang tua saya tidak tahan dengan sikap bersembunyi-sembunyi, kabur, berpesta, sikap saya, dll. Mereka mengirim saya ke pusat bernama Teen Challenge. Teen Challenge adalah program Kristen, jadi dengan saya berada disana beberapa bulan, saya belajar sangat banyak tentang Yesus Kristus. Meskipun mempelajari tentang Dia selama berbulan-bulan setiap hari tanpa henti, namun tidak ada hasilnya. Saya kabur dari program itu. Sayangnya saya tertangkap dan di kirimkan kembali.

Setelah di sana 6 bulan, tidak dapat di bayangkan betapa saya banyak belajar tentang Allah kita yang besar. Saya sangat jatuh cinta kepadaNya. Tetapi saya merasa program itu bukan tempat dimana saya seharusnya berada. Saya merasa saya dibutuhkan untuk berada didunia bersaksi kepada orang lain. Maka teman saya dan saya memutuskan untuk kabur dan menolong orang-orang datang kepada Kristus. Itulah tepatnya yang kami lakukan.

Kami berkelana sekitar Florida selama beberapa hari memberitahukan pada setiap orang yang berjumpa dengan kami tentang Yesus dan kehidupan yang luar biasa yang diberikan Nya. Setelah beberapa hari, kami memerlukan tempat-tempat yang dikenal untuk beristirahat. Rekan saya menyebutkan sebuah tempat dia tinggal setahun yang lalu sebelum dia pindah ke Florida, yaitu Troy, Alabama. Saya terkejut mendengarnya karena kami ada di Daytona, Florida. Namun saya setuju juga dan pergi ke sana.

Pada saat kami tiba disana, semua yang kami lakukan (bersaksi) sepertinya telah hilang. Kami tidak melakukan apapun yang kami telah rencanakan. Kami hanya berjalan-jalan saja. Segera kami kembali ke narkoba dan kebiasaan berpesta. Tidak lama setelah itu, kami berpisah. Saya tinggal bersama laki-laki ini yang membuat saya menggunakan narkoba lagi. Itulah yang saya lakukan sepanjang hari, setiap hari selama 2 minggu berturut-turut. Narkoba. Setelah sekitar 13, 14, 15 hari menjadi seperti itu, perut saya sakit, kepala saya pening, Saya pucat. Saya belum tidur atau makan selama 2 minggu dan berat saya 92 pound. Saya merasa dan terlihat sangat sakit. Saking sakitnya hingga saya menangis pada Tuhan. Saya mengatakan pada Nya bahwa saya menyesal dan itu bukanlah jalan yang saya inginkan. Saya memohon pertolongan Tuhan. Karena Tuhan adalah Tuhan yang pengasih, luar biasa dan Tuhan yang murah hati. Dia menolong saya.

Hari itu, keluarga yang tinggal diseberang jalan dari gereja kecil di motel terbengkalai yang dibeli sang pendeta untuk keluarga-keluarga yang kekurangan secara financial untuk dapat hidup, mengijinkan saya untuk tinggal bersama dengan mereka. Mereka menyambut saya dengan tangan terbuka sebagai salah satu anak mereka. Mereka menolong saya untuk terlepas dari narkoba, dan memulai kembali sebuah hubungan yang luar biasa dengan Tuhan. Meskipun saya tinggal disana tanpa listrik selama beberapa minggu, tapi ini adalah tempat yang tepat bagi saya.

Saya tinggal bersama keluarga itu sekitar 3 minggu sampai suatu hari ayah saya datang mengetuk pintu. Ayah saya menyetir dari Naples, Florida ke Troy, Alabama untuk menjemput anak perempuan satu-satunya, dan itulah yang dia lakukan. Ketika dia mengatakan bahwa Tuhan menuntun dia ketempat saya berada, saya tidak terkejut, karena dari pengalaman saya tahu Tuhan menjawab doa.

Saya pergi selama 5 minggu tidak termasuk masa 6 bulan yang saya habiskan dalam program itu. Namun sekarang akhirnya saya dirumah. Hidup itu sungguh indah! Saya sekarang 17 tahun dan mendapatkan GED, pekerjaan di sebuah toko buku Kristen, dan saya akan mulai kuliah di Palm Beach Atlantic University pada musim gugur. Yesus menyelamatkan hidup saya. Dia memberikan saya sebuah awal yang baru.

Saya bertanya pada diri saya setiap hari, akan berada dimana saya tanpa Yesus saat ini? Saya bahkan tidak ingin memikirkannya. Dulu saya hidup dalam kehidupan yang tidak memberikan apa-apa selain tersiksa di neraka selamanya. Tapi Yesus menyelamatkan saya dari hal itu! Hadiah saya saat ini adalah Kasih Yesus yang tidak akan binasa dan kekal bersama Nya di surga. Apalagi yang saya mau?

HOME

PERTOBATAN