|
Dari Okultisme kepada kelepasan dalam Yesus JANET Pada saat saya di kelas 8, orang tua saya memutuskan untuk bercerai. Hal itu tidak membuat saya sedih karena saya tidak tahan dengan semua pertikaian yang ada. Di tambah lagi dengan ayah saya yang sekarang menjadi pecandu alkohol dan menampar adik saya ketika frustasi. Meskipun saya tidak dekat dengan adik saya, saya terluka melihatnya diperlakukan seperti itu. Ayah saya pergi dari rumah dan tinggal di tempat lain. Saat ini saya jadi bahan permainan seluruh keluarga. Setelah kepergian ayah saya perkataan yang dingin dan sakit terus menerus tertuju pada saya lebih intensif lagi. Meskipun saya tidak pernah melupakan pelecehan seksual terhadap diri saya, saya tidak dapat lagi menahan rasa sakit di dalam saya. Suatu hari saya menghadapi kakak saya tentang semua situasi itu ketika tidak ada orang di rumah. Saya melihatnya dengan galak dia mencoba untuk mengatai saya. Ketika gagal, yang dapat dia lakukan hanya menyangkalnya dan mengatakan saya gila. Mungkin dia mengira bahwa saya akan mengatakan kebenarannya, karena setelah hari itu, dia melakukan apa saja untuk membuat seluruh keluarga menentang saya. Hari demi hari kakak dan ibu saya mengejek saya. Mereka tidak merasa hal itu keterlaluan. Sekarang tiga melawan satu orang. Saya tak dapat lagi menahan sakit itu. Sekarang ayah saya tidak ada lagi disana untuk melindungi saya dari segala kejahatan, adik lelaki saya siap untuk melampiaskan kemarahannya pada saya. Selain diejek dalam setiap kesempatan, sekarang saya harus berhadapan dengan kemarahannya yang meledak. Walaupun dia sering memukul saya, dan ibu saya tidak mau tahu akan keadaan itu. Saya merasa dikhianati, sendirian, marah, depresi dan tanpa harapan. Tidak ada tempat untuk mengadu saya mulai terlibat dalam penggunaan narkoba. Sekolah sudah tidak penting lagi bagi saya dan saya jarang masuk. Dengan peringatan keras, saya bolos masuk kelas untuk minum minuman dan merokok ganja dengan teman-teman yang seperti saya yang tidak peduli lagi tentang hidup. Saya mulai mempercayai apa yang keluarga katakan pada saya setiap hari. Saya tidak berarti, orang yang kalah, dan jahat. Saya menyerah pada Tuhan secara total, membayangkan bahwa Dia juga tidak peduli pada saya. Ritual dan praktek kegelapan yang saya tahu waktu kecil dan tidak memiliki rasa takut akan Tuhan, tidak lagi mengganggu saya. Saya mengikuti setiap pengetahuan tentang okultisme yang saya temui. Semakin saya terlibat akan hal itu, semakin saya melihat hal-hal yang tidak dapat di jelaskan dengan pikiran rasional. Saya merasa takut dan terbawa oleh sebuah kekuatan. Pada saat saya lulus SMA, saya benar-benar menjadi seorang pemberontak. Saya benci dengan semua kemunafikan disekeliling saya. Semua emosi yang saya punya di dalam saya, mengubahnya menjadi sikap yang dingin. Ketika saya tidak bisa merokok atau minum rasa terabaikan di dalam saya hilang, dan saya akan terlibat dalam perilaku asusila seksual. Hal ini juga tidak memberikan penghiburan. Saya lebih merasa bersalah dan malu dari sebelumnya. Karena tidak ada yang dapat memberikan saya kebahagiaan, secara fisik saya berusaha lari dengan pindah ke Hollywood CA bersama seorang teman. Hollywood adalah tempat yang asing namun menggairahkan. Untuk pemakai narkoba itu adalah surga. Orang yang normal sangat sedikit. Itu adalah tempat terburuk yang pernah saya tinggali. Saya memiliki persediaan narkoba berlimpah kapan saja saya menginginkannya. Tindakan seksual adalah hal yang biasa. Dan bagi para pemercaya sistem, itu adalah tempat bertemunya para pelaku okultisme, segala kaum dan setiap praktek yang dapat dibayangkan. Orang-orang yang saya temui mengajarkan saya semua yang mereka tahu tentang okultisme. Penggunaan narkoba saya terus meningkat sampai penggunaan kokain, ganja, methamphetamine, PCP, dan heroin. Dengan beberapa pengecualian, jika itu bisa dihirup, suntik, tiup atau dihisap, maka saya lakukan. Dengan depresi saya yang terus bertambah sampai pada keinginan untuk mati. Sebelum ulang tahun saya yang ke 21 tahun, saya tidak sanggup lagi hidup di Hollywood. Saya kembali pulang untuk hidup bersama ayah saya. Dengan kepindahan saya keinginan menggunakan narkoba sangat kuat namun rasa sakit saya tetap ada. Meskipun ayah sangat mengasihi saya, dia tidak lagi mengenali saya. Saya telah berubah secara drastis sejak saya pergi ke Hollywood dan karena dia tidak tahu apapun yang terjadi dalam hidup saya, dia juga ikut membuat kebiasaan saya semakin sulit. Dia tidak menyukai apa yang dia lihat dalam saya, dan ketidaksukaan ini bertambah ketika saya mendapatkan pekerjaan sebagai bartender di sebuah club strip setempat. Ketika dia mengetahuinya saya mulai bertengkar, dia tidak dapat lagi memakluminya. Kemudian saya segera pindah dan masuk ke dalam hubungan yang menyakitkan. Meskipun sebentar, saya pergi dari satu hubungan yang menyakitkan ke suatu hubungan yang lain (dalam tingkat yang berbeda-beda). Pola kehidupan yang sama seperti di Hollywood, saya juga pergi dari pekerjaan yang satu ke pekerjaan yang selanjutnya tanpa mempertimbangkan akibatnya. Saya merasa kosong dan depresi setiap saat. Yang saya inginkan hanya mati. Saya takut bunuh diri karena rasa sakit yang dirasakan dan kemungkinan terkutuk. Semua yang saya coba tidak ada yang membawa saya pada kematian yang saya inginkan. Rasa sakit akan hidup yang tidak dapat saya hindari. Setiap harapan kecil yang saya taruh hanya sebentar. Tidak ada pilihan lain yang ada untuk saya, saya memutuskan untuk mencoba kuliah untuk mendapatkan sarjana. Saya berharap bahwa ini adalah hal tepat yang saya inginkan untuk mengubah kehidupan saya. Saya memasuki sebuah universitas swasta khusus wanita pada tahun 1992. Jurusan yang saya ambil atas rasa keingintahuan saya adalah Hukum Keadilan Kriminal. Jurusan kedua yang saya ambil adalah Psikologi Berharap dapat memahami kehidupan saya. Yang mengejutkan adalah saya berhasil dengan sangat bagus pada kedua jurusan tersebut yang membangkitkan sedikit kepercayaan diri saya. Walaupun prestasi akademi saya baik namun saya tidak dapat menghilangkan rasa sakit itu di dalam saya. Saya memasuki 3 tahun Psychotherapy yang ditawarkan secara gratis oleh universitas. Meskipun terasa enak untuk dapat berbicara dengan seseorang, hal itu tampaknya tidak banyak menolong. Saya ditetapkan dengan memiliki Post Traumatic Stress Disorder (gangguan trauma stress masa lalu), Obsessive Compulsive Disorder (gangguan obsesi tekanan), dan High Depression (depresi berat) atas klasifikasi yang tak diketahui. Tidak hanya saya merasa depresi dan sakit yang mendalam, saya juga ditetapkan dengan DSM manual. Pada tahun akhir saya di universitas, saya sudah berhenti menemui dokter terapi saya. Nilai-nilai saya sangat bagus, dan saya memaksakan diri saya untuk meraih segalanya secara akademi yang terbuka bagi saya. Beberapa guru prihatin pada saya dan mengingatkan saya bahwa saya terlalu keras memaksakan diri. Saya mengabaikan semua peringatan itu dan melibatkan lebih jauh dalam pelajaran penelitian independent. Hasilnya sangat menakutkan. Saya sering menemukan diri saya meringkuk di lantai dan menangis tersedu-sedu. Ada satu minggu yang membuat pikiran saya berhenti berfungsi seluruhnya. Bahkan saya tidak ingat bagaimana caranya membuka buku. Selama waktu itu kemarahan saya pada Tuhan memuncak, saya mengultimatum Tuhan. Saya memaksaNya untuk menolong saya atau saya akan terjun ke dalam kegelapan secara total; membawa semampu saya sebanyak-banyaknya orang bersama saya. Sampai pada titik ini, keterlibatan saya dengan okultisme hanya untuk pengetahuan saya sendiri (bukan untuk menyakiti orang lain). Kemarahan terhadap Tuhan ini tidak menolong saya sama sekali. Bahkan, justru hal yang sebaliknya terjadi. Saya melihat kuasa kegelapan yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Mungkin terdengar aneh, saya menjadi berhati-hati terhadap teman terdekat saya di universitas (dimana kami tinggal satu atap) karena dia tidak seperti yang saya kira. Meskipun mereka mencoba meyakinkan saya bahwa “mereka” adalah mahluk rohani yang lebih tinggi, saya mengenal mereka dirasuki setan. Hal ini tidak mengganggu saya pada saat itu. Saya benar-benar melawan Tuhan sekarang, saya mengundang setiap kesempatan untuk berbicara pada banyak mahluk yang akan berbicara melalui mereka. Saya menyebut mereka sambil bergurau “sistem hiburan di rumah” saya. Pada mulanya saya kira itu hanya gurauan. Saya mendengarkan dengan bermaksud untuk kesalahan dalam cerita yang mereka katakan pada saya tidak berguna. Bahkan saya mendengarkan mereka berbicara melalui celah di apartemen saya berusaha melibatkan mereka. Itu tetap sama saja. Fenomena ini sangat nyata dan mengasyikan saya. Semakin saya bergaul dengan mereka, semakin saya menjadi gelap. Saya benci dengan apa yang saya lihat pada diri saya, namun saya sungguh terpikat pada kegelapan dan yang saya inginkan hanyalah mengerti hal itu. Saya membaca dan membeli setiap buku tentang ilmu hitam dan okultisme yang saya dapatkan. Saya membayarnya dengan menggunakan kartu kredit dan segera terjerat hutang yang besar. Meskipun nilai saya tidak pernah jelek, saya jadi kecanduan pada okultisme seperti tidak pernah sebelumnya. Hal ini akan segera berubah. Saya memiliki kebiasaan tidur di bangku di kelas untuk mengganti kekurangan tidur saya. Pada suatu hari, saya mengalami apa yang orang sebut dengan pengalaman keluar dari tubuh. Meskipun saya tidak akan menerangkan secara terinci tentang itu yang saya ingin katakan itu adalah hal yang sangat menakutkan. Keesokan harinya saya mengalaminya lagi. Dua hari kemudian ketika saya sedang mengetik di computer saya itu terjadi lagi. Selain terbangun pada ketiga kalinya, yang membedakan dari kedua hal sebelumnya adalah bahwa saya kelihatannya terjepit di antara di dalam dan di luar tubuh saya. Saya mengalami kesulitan bernafas dan kepanikan memenuhi perasaan saya. Tidak ada tempat untuk pergi, saya berlari ke atas dengan gila. Ketika saya memasuki rumah “teman” saya, mereka semua tertawa. Seseorang berkata,”Bagaimana rasanya sekarat?” Dia terus mentertawai kengerian saya. Saya terduduk di meja dapur mereka dan berdoa dengan sangat lembut pada Yesus untuk pertolongan. Dalam waktu 5 menit seluruh tubuh saya kembali normal. Mungkin kamu berpikir bahwa saya sudah menangkap bahwa Yesus adalah jalan untuk hidup, namun saya belum. Saya lulus dari universitas dengan kehormatan tertinggi dan melanjutkan keberadaan kegelapan saya dalam okultisme. Setelah mengalami serangan iblis secara fisik pada tubuh saya, saya menjadi ketakutan bahkan pada daun yang gugur. Saya tahu saya butuh pertolongan, namun saya tidak tahu bagaimana menghadapinya. Saya menelepon banyak pendeta dan membuat perjanjian untuk berbicara dengan mereka. Meskipun mereka melakukan semampu mereka untuk menolong saya, mereka semua diperlengkapi untuk mengatasi kasus saya. Beberapa orang hanya memandang saya seperti orang gila. Pencarian saya akan pertolongan terus berlanjut dan meluas pada chat room di internet. Saya berbicara pada semua orang Kristen yang mau mendengarkan cerita saya. seorang pendeta di chat room Kristen mengatakan semua tentang Yesus pada saya dan bagaimana di selamatkan. Dia menolong saya untuk menghapus ketakutan saya bahwa Tuhan membenci saya dan tidak akan menerima saya kembali. Dia mengatakan pada saya untuk memiliki iman dan dengan percaya menerima Yesus ke dalam hidup saya. Saya membuat langkah iman pada bulan September 1997. Itu adalah hari yang terbaik dalam hidup saya! Meskipun saya masih memiliki banyak pergumulan dan kambuh, 3 bulan kemudian setelah saya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat saya, depresi saya benar-benar hilang. Setiap hari adalah berkat bagi saya dan penuh dengan suka cita yang tidak dapat saya lukiskan. Saya tidak pernah mencintai kehidupan sebelum mengenal Yesus. Sekarang tiap menit saya hidup untuk Nya. Yang saya inginkan hanyalah melayaniNya dan bertumbuh dalam rencanaNya untuk saya. Yesus sungguh datang untuk melepaskan yang terikat. Saya bukti hidup dari hal itu. Puji Tuhan..sebab Dia baik! Tuhan memberkati kamu sekalian, Kasih dalam Kristus, |