|
Saya percaya kesaksian saya dapat dikatakan “kamu tidak dapat lari” karena itulah yang kita coba lakukan berlari dari Tuhan. Suami dan saya memiliki banyak masalah. Kami memiliki 2 anak laki-laki berusia 3,5 dan 1 tahun. Kami mencoba untuk hidup baik, tapi ketika ada narkoba dan alkohol yang terlibat, tidak ada banyak kesempatan. Saya mencoba untuk pergi ke gereja karena ada teman yang mengundang saya, namun suami saya tidak senang kalau saya pergi. Saya harus berjalan kaki ke gereja, maka saya pergi beberapa kali dan belajar beberapa hal yang penting, seperti masa kesusahan besar, bahwa Yesus akan datang kembali, dan hal-hal semacam itu. Pada saat yang sama suami saya semakin dalam terjerat dengan narkoba dan alkohol, dan perselisihan berlanjut. Sampai suatu hari saya memutuskan dan memberitahukannya bahwa saya akan pergi dan mungkin akan berakhir dengan perceraian. Dia berkata,” tidak, saya akan berhenti bekerja dan kita akan pindah keluar kota jauh dari semuanya dan mencoba untuk memulai kehidupan yang baru disana.” Maka saya setuju dan kami pergi ke sebuah kota sekitar 12 jam jauhnya. Kami menemukan sebuah rumah sewaan dan mulai pindah hari Kamis dan hari Jumat kami hampir beres, kami memasak pada malam itu, kemudian kami pergi menonton, pada saat yang sama saya berpikir mungkin kami akan melakukan lebih baik disini, tanpa mengetahui apa yang sesungguhnya tersedia bagi kami yang akan mengubah seluruh hidup kami. Saya memutuskan untuk pergi tidur dengan anak-anak dan suami saya tetap terjaga dan minum. Hari itu adalah Sabtu pagi jam 9.00 (Memorial Day) ketika secara tiba-tiba ada ledakan keras (gas), sebegitu kerasnya sampai saya tidak dapat berpikir jernih, karena kami semua masih tertidur, kemudian ada ledakan lagi. Saat ini saya mulai berpikir bahwa saya ada di masa kesusahan besar. Ledakan itu telah melemparkan saya keluar dan saya terbelalak menatap rumah-rumah yang tidak terbakar maka saya berpikir ada sesuatu yang salah, maka saya mulai mencari keluarga saya dan saya melihat anak saya yang berusia 1 tahun. Dia terbakar seluruh sisi kiri dari wajahnya sampai kakinya dan saya sangat lemas sehingga saya tidak dapat bergerak. Wajah saya juga terbakar, saya terluka, kemudian saya berhasil berteriak pada suami saya sementara dia merangkak keluar dari bawah puing-puing. Saya menyuruhnya untuk meraih anak kami dan dia memadamkan api darinya dan menyerahkannya pada saya karena saya tidak bisa bergerak. Ketika saya melihat betapa parahnya dia terbakar dan dia sama sekali tidak menangis, saya jatuh pingsan, saya tidak dapat memeluk dia lagi. Kemudian seseorang datang dan mengambilnya dari saya dan menolong saya bangun dan keluar dari api. Suami saya masih mencari anak kami yang berusia 3,5 tahun. Kami tidak dapat menemukannya sampai mereka mulai mengangkat segala macam papan, mereka mengangkat atap sudut dan dia ada dibawahnya, yang dapat dilihat hanya kaki kecilnya, membutuhkan 7 atau 8 orang untuk mengangkat atap itu dan mengeluarkannya, namun dia sudah meninggal. “kebanggaan dan sukacita” kami telah hilang. Mereka membawa anak saya ke rumah pemakaman, dan membawa anak saya yang lainnya ke rumah sakit 30 mil jauhnya dan suami saya ke rumah sakit kota. Saya tidak pernah merasakan begitu kesepian hari itu, tidak mengenal siapapun di kota itu, hanya terduduk di ruang tunggu menunggu atas apa yang akan mereka katakan pada saya. Mereka melihat wajah saya dan memberikan obat dan perban. Bahkan saya tidak dapat berbicara pada Tuhan karena saya tidak tahu bagaimana caranya. Saya sangat terluka dan saya masih tidak dapat menangis, sepertinya semua yang terjadi adalah mimpi dan saya akan terbangun. Kami menelepon keluarga dan mereka dalam perjalanan. Itu adalah hari Minggu malam, saya ada di rumah sakit dengan suami saya ketika kami menerima sebuah telepon dari tempat pemakaman yang mengatakan,”apakah anda orang tua dari anak laki-laki kecil yang meninggal Sabtu pagi itu?” Saya dan suami saya hampir menjadi gila, kami sepertinya telah melupakan dia, sehingga kami lupa bahwa dia telah meninggal. Suami saya berbicara pada mereka mengenai pengiriman jenazahnya ke kampung halaman kami dan mereka berkata itu akan membutuhkan biaya $1500 yang kami tidak miliki. Maka suami saya mengatakan pada mereka untuk mempersiapkan jenazahnya untuk perjalanan jauh kembali ke rumah, kami membuat pengaturan agar suami saya dapat keluar dari rumah sakit pada Minggu pagi dengan kakak dan mertua saya. Mereka datang ke rumah pemakaman untuk mengambil jenazahnya dan meletakkan peti mati kecil dibelakang kursi mobil dan menyetir pulang selama 12 jam. Suami saya berkata itu adalah perjalanan pulang ke rumah terlama, terkadang dia merasa seperti membawanya dan memeluknya dengan sangat erat dan tidak ingin melepaskannya. Mereka tiba di kota kami dan membuat pengaturan disana dengan rumah pemakaman dan memakamkan anak saya dalam 2 hari. Saya tidak pergi karena anak saya yang berusia 1 tahun masih berjuang untuk hidupnya dan saya harus mendampinginya. Para dokter memberitahukan saya bahwa mereka harus memutuskan suara anak saya, karena dia tidak bernafas dengan baik dan mereka meletakkan tabung di tenggorakkannya, dia telah membengkak. Saya masih tidak mampu menangis. Suami saya berkata bahwa beberapa kakak (sepupu) dari sebuah gereja mengundangnya untuk pergi sehabis pemakaman, lalu dia pergi dan berkata lagi pula dia tidak memiliki tujuan apa-apa untuk hidup. Pada saat kebaktian mereka berkotbah tentang “neraka” dan dia tidak pernah mendengarkan pesan tentang itu. Dia mulai berpikir itulah tempat dimana saya dan dia akan berakhir jika kami meninggal dalam kecelekaan itu, dan dia mulai menangis ketika ada panggilan altar. Mereka memberitahukan saya bahwa dia menangis menumpahkan isi hatinya pada Tuhan dan meminta Nya jika pada satu hari dia dapat melihat anaknya. Dan Tuhan dengan belas kasihNya yang besar menjawabnya berkata,”ya kamu akan melihat anakmu jikalau kamu melayani Aku.” Dan suami saya memberikan hatinya pada Tuhan dan menangis pada Nya, mereka berkata dia juga menerima Roh Kudus dan dia melompat-lompat ke mana-mana karena kakinya tidak sakit lagi. Tuhan telah mengambil semuanya. Dia menyelamatkan, melepaskan, mengambil sakitnya. Dia membuat suami saya mmenjadi orang yang berbeda sama sekali. Puji Tuhan!!! Dia tidak pernah lagi menyentuh narkoba atau alkohol. Anak saya yang paling kecil semakin membaik sekarang,
kami mengirimnya ke rumah sakit Galveston Shriners dimana dia melakukan
30 operasi dan pencangkokan kulit. Dia juga mengasihi Tuhan dan dia
bernyanyi untuk Tuhan. Kerinduannya adalah untuk rekaman suatu hari
nanti. Setelah para dokter mengatakan bahwa kemungkinan dia tidak akan
pernah berbicara lagi! Itu adalah sebuah mujizat!!! Gloria Z |